Cara untuk menstimulasi agar Anak Tidak Mengalami Gangguan Bicara


Beberapa cara menstimulasi anak diantaranya :
1. Berbicara
Setiap hari bicara dengan bayi sesering mungkin. Gunakan setiap kesempatan seperti waktu
memandikan bayi, mengenakan pakaiannya, memberi makan dan lainlain.
Anak tidak pernah
terlalu muda untuk diajak bicara.
2. Mengenali berbagai suara
Ajak anak mendengarkan berbagai suara seperti musik, radio, televisi. Juga buatlah suara dari
kerincingan, mainan, kemudian perhatikan bagaiman reaksi anak terhadap suara yang berlainan.
3. Menunjuk dan menyebutkan nama gambargambar
Ajak anak melihat gambargambar,
kemudian gambar ditunjuk dan namanya disebutkan, usahakan
anak mengulangi katakata,
lakukan setiap hari. Bila anak sudah bisa menyebutan nama gambar,
kemudian dilatih untuk bercerita tentang gambar tersebut
4. Mengerjakan perintah sederhana
Mulai memberikan perintah kepada anak misal “letakkan gelas di meja”. Kalau perlu tunjukkan
kepada anak cara mengerjakan perintah tadi, gunakan katakata
yang sederhana.
Terapi anak gagap diawali dengan mengurangi stres emosional disertai bimbingan dan
konseling terhadap orang tua demi kemajuan anaknya. Hampir separuh anak gagap dapat
mengatasinya, walaupun demikian rujukan ke ahli terapi wicara merupakan bantuan yang sangat
penting bagi anak, dan terapi lebih efektif jika dimulai pada masa pra sekolah. Indikasi rujuk yaitu
jika anak terlihat tidak nyaman atau cemas saat bicara atau kecurigaan adanya hubungan gangguan
ini dengan kelainan neurologis ataupun psikis pada anak.

Sumber: dokteranakku.com

Read Users' Comments (0)

4 tipe Gangguan Bahasa

American Psychiatric Association’s Diagnostic and Statistical Manual of Mental
Disorder (DSM IV) membagi gangguan bahasa dalam 4 tipe.
1. Gangguan bahasa ekspresif
2. Gangguan bahasa reseptifekspresif
3. Gangguan phonological
4. Gagap
Pada gangguan bahasa ekspresif, secara klinis kita bisa menemukan gejala seperti
perbendaharaan kata yang jelas terbatas, membuat kesalahan dalam kosa kata, mengalami kesulitan
dalam mengingat katakata
atau membentuk kalimat yang panjang dan memiliki kesulitan dalam
pencapaian akademik, dan komunikasi sosial, namun pemahaman bahasa anak tetap relatif utuh.
Gangguan menjadi jelas pada kirakira
usia 18 bulan, saat anak tidak dapat mengucapkan kata
dengan spontan atau meniru kata dan menggunakan gerakan badannya untuk menyatakan
keinginannya. Jika anak akhirnya bisa berbicara, defisit bahasa menjadi jelas, terjadi kesalahan
artikulasi seperti bunyi th, r, s, z, y. Riwayat keluarga yang memiliki gangguan bahasa ekspresif juga
ikut mendukung diagnosis.
Pada gangguan bahasa campuran ekspresifreseptif,
selain ditemukan gejalagejala
gangguan
bahasa ekspresif, juga disertai kesulitan dalam mengerti kata dan kalimat. Ciri klinis penting dari
gangguan tersebut adalah gangguan yang bermakna pada pemahaman bahasa dan ekspresi bahasa.
Gangguan ini biasanya tampak sebelum usia 4 tahun. Bentuk yang parah terlihat pada usia 2 tahun,
bentuk ringan tidak terlihat sampai usia 7 tahun atau lebih tua. Anak dengan gangguan bahasa
reseptifekspresif
campuran memiliki gangguan auditorik sensorik atau tidak mampu memproses
simbol visual seperti arti suatu gambar. Mereka memiliki defisit dalam mengintegrasikan simbol
auditorik maupun visual, contohnya mengenali atribut dasar yang umum untuk mainan truk dan
mainan mobil penumpang. Anak dengan gangguan bahasa campuran reseptifekspresif
biasanya
tampak tuli.
Anakanak
dengan kesulitan berbicara memiliki masalah dalam pengucapan, yaitu
berhubungan dengan gangguan motorik, diantaranya kemampuan untuk memproduksi suara.19
Anak yang gagap dapat diketahui dari cara dia berbicara, dimana terjadi pengulangan atau
perpanjangan suara, kata, atau suku kata. Biasanya sering terjadi pada anak lakilaki
usia 23
tahun
dan 57
tahun. Sangat sering disertai mengedip mata dan menggoyangkan kepala.

Sumber: dokteranakku.com

Read Users' Comments (0)

Penyebab Gangguan Bicara dan Bahasa

Menurut Blager BF
Penyebab Efek pada Perkembangan Bicara
1. Lingkungan
a. Sosial ekonomi kurang
b. Tekanan keluarga
c. Keluarga bisu
d. Dirumah menggunakan bahasa
bilingual
2. Emosi
a. Ibu yang tertekan
b. Gangguan serius pada orang tua
c. Gangguan serius pada anak
3. Masalah pendengaran
a. Kongenital
b. Didapat
4. Perkembangan terlambat
a. Perkembangan lambat
b. Perkembangan lambat, tetapi
masih dalam batas ratarata
c. Retardasi mental
5. Cacat bawaan
a. Palatoschizis
b. Sindrom Down
6. Kerusakan otak
a. Kelainan neuromuskular
b. Kelainan sensorimotor
c. Palsi serebral
d. Kelainan persepsi
a. Terlambat
b. Gagap
c. Terlambat pemerolehan bahasa
d. Terlambat pemerolehan struktur bahasa
a. Terlambat pemerolehan bahasa
b. Terlambat atau gangguan perkembangan
bahasa
c. Terlambat atau gangguan perkembangan
bahasa
a. Terlambat atau gangguan bicara
permanen
b. Terlambat atau gangguan bicara
permanen
a. Terlambat bicara
b. Terlambat bicara
c. Pasti terlambat bicara
a. Terlambat dan terganggu kemampuan
bicara
b. Kemampuan bicaranya lebih rendah
a. Mempengaruhi kemampuan menghisap,
menelan, mengunyah dan akhirnya timbul
gangguan bicara dan artikulasi seperti
disartria
b. Mempengaruhi kemampuan menghisap,
menelan, akhirnya menimbulkan
gangguan artikulasi, seperti dispraksia
c. Berpengaruh pada pernapasan, makan
dan timbul juga masalh artikulasi yang
dapat mengakibatkan disartria dan
dispraksia
d. Kesulitan membedakan suara, mengerti
bahasa, simbolisaasi, mengenal konsep,
akhirnya menimbulkan kesulitan belajar
di sekolah

Sumber : dokteranakku.com

Read Users' Comments (0)

Penyebab Gangguan Bicara dan Bahasa

Menurut Blager BF
Penyebab Efek pada Perkembangan Bicara
1. Lingkungan
a. Sosial ekonomi kurang
b. Tekanan keluarga
c. Keluarga bisu
d. Dirumah menggunakan bahasa
bilingual
2. Emosi
a. Ibu yang tertekan
b. Gangguan serius pada orang tua
c. Gangguan serius pada anak
3. Masalah pendengaran
a. Kongenital
b. Didapat
4. Perkembangan terlambat
a. Perkembangan lambat
b. Perkembangan lambat, tetapi
masih dalam batas ratarata
c. Retardasi mental
5. Cacat bawaan
a. Palatoschizis
b. Sindrom Down
6. Kerusakan otak
a. Kelainan neuromuskular
b. Kelainan sensorimotor
c. Palsi serebral
d. Kelainan persepsi
a. Terlambat
b. Gagap
c. Terlambat pemerolehan bahasa
d. Terlambat pemerolehan struktur bahasa
a. Terlambat pemerolehan bahasa
b. Terlambat atau gangguan perkembangan
bahasa
c. Terlambat atau gangguan perkembangan
bahasa
a. Terlambat atau gangguan bicara
permanen
b. Terlambat atau gangguan bicara
permanen
a. Terlambat bicara
b. Terlambat bicara
c. Pasti terlambat bicara
a. Terlambat dan terganggu kemampuan
bicara
b. Kemampuan bicaranya lebih rendah
a. Mempengaruhi kemampuan menghisap,
menelan, mengunyah dan akhirnya timbul
gangguan bicara dan artikulasi seperti
disartria
b. Mempengaruhi kemampuan menghisap,
menelan, akhirnya menimbulkan
gangguan artikulasi, seperti dispraksia
c. Berpengaruh pada pernapasan, makan
dan timbul juga masalh artikulasi yang
dapat mengakibatkan disartria dan
dispraksia
d. Kesulitan membedakan suara, mengerti
bahasa, simbolisaasi, mengenal konsep,
akhirnya menimbulkan kesulitan belajar
di sekolah

Read Users' Comments (0)

Etiologi dan Patogenesis Gangguan Bicara dan Bahasa pada Anak

Penyebab kelainan berbicara dan bahasa bisa bermacam-macam
yang melibatkan berbagai
faktor yang dapat saling mempengaruhi, antara lain kondisi lingkungan, pendengaran, kognitif,
fungsi saraf, emosi psikologis, dan lain sebagainya.

Gangguan bicara dan bahasa pada anak dapat disebabkan oleh kelainan berikut :
1. Lingkungan sosial dan emosional anak.
Interaksi antar personal merupakan dasar dari semua komunikasi dan perkembangan bahasa.
Lingkungan yang tidak mendukung akan menyebabkan gangguan bicara dan bahasa pada anak,
termasuk lingkungan keluarga. Misalnya, gagap dapat disebabkan oleh kekhawatiran dan
perhatian orang tua yang berlebihan pada saat anak mulai belajar bicara, tekanan emosi pada
usia yang sangat muda sekali, dan dapat juga sebagai suatu respon terhadap konflik dan rasa
takut. Sebaliknya, gagap juga dapat menimbulkan problem emosional pada anak.
2. Sistem masukan / input.
Gangguan pada sistem pendengaran, penglihatan, dan defisit taktilkinestetik
dapat
menyebabkan gangguan bicara dan bahasa pada anak.
Dalam perkembangan bicara, pendengaran merupakan alat yang sangat penting. Anak
seharusnya sudah dapat mengenali bunyibunyian
sebelum belajar bicara. Anak dengan otitis
media kronis dengan penurunan daya pendengaran akan mengalami keterlambatan kemampuan
menerima atau mengungkapkan bahasa. Gangguan bahasa juga terdapat pada tuli karena
kelainan genetik dan metabolik (tuli primer), tuli neurosensorial (infeksi intrauterin : TORCH),
tuli konduksi seperti akibat malformasi telinga luar, tuli sentral (sama sekali tidak dapat
mendengar), tuli persepsi/afasia sensorik (terjadi kegagalan integrasi arti bicara yang didengar
menjadi suatu pengertian yang menyeluruh), dan tuli psikis seperti pada skizofrenia, autisme
infantil, keadaan cemas dan reaksi psikologis lainnya.
Anak dengan gangguan penglihatan yang berat, akan terganggu pola bahasanya. Pada anak
dengan defisit taktilkinestetik
akan terjadi gangguan artikulasi, misalnya pada anak dengan.
anomali alat bicara perifer, seperti pada labioskizis, palatoskizis dan kelainan bentuk rahang,
bisa didapati gangguan bicara berupa disartria.
3. Sistem pusat bicara dan bahasa.
Kelainan pada susunan saraf pusat akan mempengaruhi pemahaman, interpretasi, formulasi, dan
perencanaan bahasa, juga aktivitas dan kemampuan intelektual dari anak. Dalam hal ini,
terdapat defisit kemampuan otak untuk memproses informasi yang komplek secara cepat.
Kerusakan area Wernicke pada hemisfer dominan girus temporalis superior seseorang akan
menyebabkan hilangnya seluruh fungsi intelektual yang berhubungan dengan bahasa atau simbol verbal, yang disebut dengan afasia Wernicke. Penderita mampu mengerti katakata
yang
dituliskan atau didengar, namun tak mampu menginterpretasikan pikiran yang diekspresikan.
Apabila lesi pada area Wernicke ini meluas dan menyebar ke belakang (regio girus angular), ke
inferior (area bawah lobus temporalis), dan ke superior (tepi superior fisura sylvian), maka
penderita tampak seperti benarbenar
terbelakang total untuk mengerti bahasa dan
berkomunikasi, disebut dengan afasia global. Bila lesi tidak begitu parah, maka penderita masih
mampu memformulasikan pikirannya namun tidak mampu menyusun katakata
yang sesuai
secara berurutan dan bersamasama
untuk mengekspresikan pikirannya.
Kerusakan pada area bicara broca yang terletak di regio prefrontal dan fasial premotorik korteks
menyebabkan penderita mampu menentukan apa yang ingin dikatakannya dan mampu
bervokalisasi namun tak mampu mengatur sistem vokalnya untuk menghasilkan katakata
selain
suara ribut. Kelainan ini disebut afasia motorik, kirakira
95% kelainannya di hemisfer kiri.
Regio fasial dan laringeal korteks motorik berfungsi mengaktifkan gerakan otototot
mulut,
lidah, laring, pita suara, dan sebagainya, yang bertanggung jawab untuk intonasi, waktu, dan
perubahan intensitas yang cepat dari urutan suara. Kerusakan pada regioregio
ini menyebabkan
ketidakmampuan untuk berbicara dengan jelas.
Gangguan komunikasi biasanya merupakan bagian dari retardasi mental, misalnya pada sindrom Down. Pada anak dengan retardasi mental, terdapat disfungsi otak akibat adanya
ketidaknormalan yang luas dari struktur otak, neurotransmitter atau mielinisasi, sehingga
perkembangan mentalnya terhenti atau tidak lengkap, sehingga berpengaruh pada semua
kemampuan kognitif, bahasa, motorik dan sosial.
4. Sistem produksi
Sistem produksi suara meliputi laring, faring, hidung, struktur mulut dan mekanisme
neuromuskular yang berpengaruh terhadap pengaturan nafas untuk berbicara, bunyi laring,
pembentukan bunyi untuk artikulasi bicara melalui aliran udara lewat laring, faring dan rongga
mulut.

Sumber : dokteranakku.com

Read Users' Comments (0)

Gangguan Bicara dan Bahasa

Ada perbedaan antara bicara dan bahasa. Bicara adalah pengucapan, yang menunjukkan
keterampilan seseorang mengucapkan suara dalam suatu kata. Bahasa berarti menyatakan dan
menerima informasi dalam suatu cara tertentu. Bahasa merupakan salah satu cara berkomunikasi.
Bahasa reseptif adalah kemampuan untuk mengerti apa yang dilihat dan apa yang didengar. Bahasa
ekspresif adalah kemampuan untuk berkomunikasi secara simbolis baik visual (menulis, memberi
tanda) atau auditorik. Seorang anak yang mengalami gangguan berbahasa mungkin saja dapat
mengucapkan suatu kata dengan jelas tetapi ia tidak dapat menyusun dua kata dengan baik.
Sebaliknya, ucapan seorang anak mungkin sedikit sulit untuk dimengerti, tetapi ia dapat menyusun
katakata
yang benar untuk menyatakan keinginannya. Masalah bicara dan bahasa sebenarnya
berbeda tetapi kedua masalah ini sering kali tumpang tindih.
Gangguan bicara dan bahasa terdiri dari masalah artikulasi, masalah suara, masalah
kelancaran berbicara (gagap), afasia (kesulitan dalam menggunakan katakata,
biasanya akibat
cedera otak) serta keterlambatan dalam bicara atau bahasa. Keterlambatan bicara dan bahasa dapat
disebabkan oleh berbagai faktor termasuk faktor lingkungan atau hilangnya pendengaran. Gangguan
bicara dan bahasa juga berhubungan erat dengan area lain yang mendukung seperti fungsi otot
mulut dan fungsi pendengaran. Keterlambatan dan gangguan bisa mulai dari bentuk yang sederhana
seperti bunyi suara yang “tidak normal” (sengau, serak) sampai dengan ketidakmampuan untuk
mengerti atau menggunakan bahasa, atau ketidakmampuan mekanisme oralmotor
dalam fungsinya
untuk bicara dan makan.
Gangguan perkembangan artikulasi meliputi kegagalan mengucapkan satu huruf sampai
beberapa huruf. Sering terjadi penghilangan atau penggantian bunyi huruf itu sehingga
menimbulkan kesan bahwa bicaranya seperti anak kecil. Selain itu juga dapat berupa gangguan
dalam pitch, volume atau kualitas suara.
Afasia yaitu kehilangan kemampuan untuk membentuk katakata
atau kehilangan
kemampuan untuk menangkap arti katakata
sehingga pembicaraan tidak dapat berlangsung dengan
baik. Anakanak
dengan afasia didapat memiliki riwayat perkembangan bahasa awal yang normal,
dan memiliki onset setelah trauma kepala atau gangguan neurologis lain (sebagai contohnya
kejang).
Gagap adalah gangguan kelancaran atau abnormalitas dalam kecepatan atau irama bicara.
Terdapat pengulangan suara, suku kata atau kata, atau suatu bloking yang spasmodik, bisa terjadi
spasme tonik dari otototot
bicara seperti lidah, bibir, dan laring. Terdapat kecenderungan adanya
riwayat gagap dalam keluarga. Selain itu, gagap juga dapat disebabkan oleh tekanan dari orang tua
agar anak bicara dengan jelas, gangguan lateralisasi, rasa tidak aman, dan kepribadian anak.
Stimulasi yaitu kegiatan merangsang kemampuan dasar anak agar anak tumbuh dan
berkembang secara optimal. Setiap anak perlu mendapat stimulasi rutin sedini mungkin dan terus
menerus pada setiap kesempatan yang dapat dilakukan oleh ibu, ayah, pengasuh, maupun orangorang
terdekat dalam kehidupan seharihari.
Kurangnya stimulasi dapat menyebabkan gangguan
yang menetap.


Sumber : www.dokteranakku.com

Read Users' Comments (0)

Layanan Pendidikan untuk Anak yang Mengalami Hambatan Belajar

Di dalam memberikan layanan pendidikan kepada anak-anak yang mengalami
hambatan perkembangan belajar, seorang guru tidak dapat bekerja sendiri. Mengingat
keterbatasan pada setiap orang. Dengan bekerja sendiri seorang guru tidak dapat
memperoleh spektrum pengetahuan dan keterampilan yang luas dan tidak mempunyai waktu
yang cukup untuk menangani sendiri. Untuk melakukan diagnosis dan evaluasi dengan tepat
suatu kasus ini dibutuhkan pengetahuan yang spesifik, seperti: Neurologi, Pedagogi,
Psikologi, Terapi bicara, Fisioterapi dan lain-lain. Pengetahuan ini dapat diperoleh melalui
kerjasama dengan para ahli lainnya.

Hambatan perkembangan belajar yang banyak dialami oleh siswa Sekolah Dasar dan
Sekolah Menengah itu disebabkan oleh faktor internal pada diri anak yang tentu saja
berimplikasi kepada kesulitan belajar membaca, menulis, dan berhitung. Sehingga dalam
memecahkan permasalahan belajar anak seperti ini, kita harus mulai dari kondisi dalam diri
(internal) anak seperti persepsi penglihatan, pendengaran, taktile (perabaan), dan motorik-
kinestetik (gerakan otot dan tulang), yang merupakan akar dan dasar dari munculnya
kesulitan tersebut, bukan diawali dari produk belajarnya yang berupa kesulitan akademis
(membaca, menulis, atau matematika).

Misal dalam kesulitan menulis, ada dua kemampuan dasar yang diperlukan anak-anak
sekolah untuk mengembangkan keterampilan menulisnya, yaitu kemampuan keterampilan
tangan dan kemampuan intelektual. Kemampuan keterampilan tangan, seperti: kemampuan
menggerakkan pergelangan tangan secara fleksibel, jari-jari menulis harus dapat memgang
pinsil dengan benar, gerakan mencoret harus dapat membuat suatu bentuk dalam satu
bidang, sehingga dapat memperlancar gerakan menulis, dan anak harus dapat menggambar
sendiri suatu bentuk sampai kemapuan motorik dan penginderaannya berkembang agar
mereka mampu membedakan berbagai bentuk. Sedangkan kemampuan intelektual meliputi:
berpikir logis, misalnya: ketepatan artikulasi dalam bicara, perbendaharaan kata cukup dan
dapat ditangkap dalam pikirannya, mengenal simbol-simbol huruf dan lafalnya yang sesuai,
dan kemampuan menganalisa lafal huruf dalam kata, menyatukan kembali dengan benar lafal-
lafal huruf tadi menjadi kata (sintesa).

Adapun kegiatan yang perlu diajarkan mencakup: kegiatan sehari-hari yang menuntut
keterampilan koordinasi motorik dan kontrol gerakan otot yang teratur dan terarah, serta
menggerakkan pergelangan tangan dengan lentur dan lancar serta melatih kepekaan ujung-
ujung jari menulis. Di samping itu juga perlu ditunjang dengan kegiatan tingkat lanjut, seperti:
menelusuri bentuk-bentuk geometri dengan menggunakan pinsil dan mengarsir bentuk yang
sudah tergambar, mengucapkan lafal-lafal huruf, menelusuri huruf-huruf dari kertas ampelas,


menyusun potongan-potongan huruf menjadi kata, dan menuliskan kata yang dibentuknya
serta membacakannya untuk orang lain.

Kemampuan dasar lain yang diperlukan untuk pengembangan kemampuan dasar
akademik pada siswa SD dan SMP adalah kemampuan sensorimotor (penginderaan). Pada
tahap awal yang perlu diajarkan adalah: kemampuan membedakan macam-macam bunyi,
kepekaan membedakan macam-macam bunyi dan irama, kepekaan terhadap bunyi-bunyi
pada gerakan benda atau manusia, ketajamanan pengamatan dalam membedakan berbagai
ukuran, kemampuan membedakan ukuran pada bentuk berdimensi tiga, kemampuan
membedakan macam-macam bentuk geometri bidang datar, dan kemampuan membedakan
bentuk-bentuk dan lafal-lafal huruf dari ampelas. Jika kemampuan dasar tersebut telah
dikuasai, maka bisa dilanjutkan pada pengembangan kemampuan membaca kata yang tidak
mengandung sisipan dan akhiran, membaca nama-nama benda yang telah dikenal dengan
menyajikan bendanya dalam ukuran kecil (miniatur), dan membaca nama-nama benda yang
ada di sekitarnya dari kata yang telah ditulis pada sepotong kertas, serta menulis huruf besar
yang disambung dengan huruf kecil juga bisa mulai diperkenalkan.

Setelah kemampuan tersebut dikuasai, bisa dilanjutkan membaca kata atau kalimat yang
mengandung sisipan dan akhiran, yang meliputi: membaca klasifikasi dari kartu bergambar,
membaca kalimat tugas yang ditulis pada sepotong kertas, dan membaca buku bacaan kecil
yang memuat gambar dan kalimat-kalimat pendek yang sesuai. Dengan melalui penguasaan
kemampuan dasar membaca itu, maka kemampuan anak-anak bisa ditingkatkan kepada
kemampuan membaca definisi suatu benda dengan menggunakan kartu bergambar dan kartu
kata; serta menganalisis kalimat untuk mencapai pengertian membaca lanjut (total).



DAFTAR PUSTAKA



Eberwein, Hans (1999). Behinderte und Nichtbehinderte lernen gemeinsame. Basel: Beltz.



G. Heinstock, Elizabeth (1999). Metode Pengajaran Montessori untuk Anak Usia Sekolah.



Hellbrügge,Theodor,et.al.(1998). Die Montessori Pädagogik und das behinderte Kind.
München:Kindler.



Michael, Berthold, et.al (1996). Grundlagen Meiner Pädagogik. Heidelberg: Quelle & Meyer.



Mercer, C.D. & Mercer, A.R. (1995). Teaching Students with Learning Problems. Columbus:
Charles Merrill.



Lyon, G.R., ed. (2004). Frames of reference for the assessment of learning disabilities: New
views on measurement issues. Baltimore: Paul H. Brookes.



Lerner, J.W. (1999). Educational interventions in learning disabilities. Journal of the
American Academy of Child and Adolescent Psychiatry 28:326–31.

Read Users' Comments (0)

Identifikasi Anak Hambatan Perkembangan Belajar

Identifikasi (pengenalan) dini pada perkembangan anak merupakan suatu proses yang
penting untuk memahami potensi dan kebutuhan mereka. Semakin dini proses ini dilakukan,
maka upaya pengembangan potensi anak juga semakin efektif. Identifikasi dini pada masa
sekolah sangat menentukan perkembangan anak-anak di masa mendatang. Apabila di usia
sekolah itu kita salah dalam memahami dan memperlakukan anak, maka perkembangan
anak-anak di usia sekolah menjadi terhambat.

Pandangan dan perlakuan yang salah itu antara lain:

1. masa kanak-kanak dianggap sebagai penembus masa kedewasaan, dimana semua
kebutuhan anak ditentukan secara sepihak oleh orang dewasa
2. sifat-sifat moral baik diajarkan, pola berpikir dididik, dan kekayaan budaya ditanamkan
dengan model orang dewasa memahaminya
3. anak harus bekerja sebagaimana orang dewasa bekerja
4. keteraturan internal anak didektekan dari luar atau atas kehendak orang dewasa. Dengan
pandangan dan perlakuan yang salah terhadap anak mengakibatkan perkembangan
anak diatur orang dewasa, kebebasan anak yang sesuai dengan dunianya hilang,
kepatuhan dan disiplin anak tercipta karena otoritas orang dewasa, dan anak menjadi
objek pendidikan dan pengajaran orang dewasa.


Jadi pada prinsipnya dunia anak itu tidak sama dengan dunia orang dewasa. Anak
dan orang dewasa merupakan dua makhluk yang sangat berbeda yang hidup dalam satu
kebersamaan yang dapat menimbulkan pertikaian. Orang dewasa adalah manusia yang
mempunyai kemauan dan berkuasa, sedangkan anak kecil adalah manusia yang tidak tahu
apa-apa, dan tanpa daya mempercayakan dirinya dalam perlindungan orang dewasa. Di
samping itu orang dewasa menciptakan lingkungan sesuai dengan kebutuhannya, sehingga
dalam lingkungan ini anak bagaikan bukan makhluk sosial, tetapi bagaikan orang asing di
dalam sistem sosial orang dewasa, dan anak merasakan bahwa ”tempatku bukan ini“.
Dengan demikian semakin jelas bahwa irama kerja anak tidak sama dengan irama kerja


orang dewasa dan kebutuhan internal pertumbuhan anak menentukan jenis pekerjaan yang
dilakukannya, sedangkan orang dewasa bekerja karena alasan-alasan dari luar.

Dengan permasalahan tersebut maka kita perlu merubah wacana dalam memahami
dan memberdayakan anak. Anak pada awal kehidupannya bagaikan “malam” yang lunak,
namun dalam bentuk yang lain sama sekali sehingga hanya bisa dibentuk oleh
kepribadiannya sendiri. Anak tidak menyandang tanda-tanda milik orang dewasa yang
diperkecil, melainkan di dalam dirinya tumbuh kehidupannya sendiri, dan hanya ia
pemiliknya. Setiap saat anak harus selalu tumbuh karena pekerjaan ini merupakan karya
cipta manusia yang terbesar sehingga anak membutuhkan orang dewasa untuk hidup, bukan
untuk mengatur perkembangan anak dan menjadikan anak menjadi objek pendidikan dan
pengajaran.

Berdasarkan berbagai penelitian dari para ahli pendidikan anak, telah ditemukan
beberapa keterampilan dasar yang pengembangannya dianggap sangat penting bagi
pendidikan anak sekolah, yaitu keterampilan motorik, sensorimotor, dan persepsimotor.
Keterampilan dasar ini meliputi: keterampilan-keterampilan visual (pengamatan), auditif
(mendengarkan), komunikasi lisan, membaca, dan menulis permulaan, matematika awal,
mandiri secara sosial dan emosional, pemahaman posisi dan arah, warna, tekstur, dan
waktu. Untuk lebih jelasnya, maka keterampilan dasar tersebut dapat dideskripsikan sebagai
berikut:

1. Pengalaman anak melalui gerakan tubuh dan tangan (sensorimotori)


Penggunaan indera (sensorimotor) tersebut dimaksudkan untuk mencapai integrasi
sensori yang baik. Sensori Integrasi (S I) adalah suatu proses neurologis dalam
perolehan informasi melalui pancaindera, lalu informasi ini diolah dalam sistem syaraf
pusat, dan informasi itu digunakan untuk kelancaran dalam melaksanakan aktivitas
kehidupan sehari-hari. Jadi sensori integrasi merupakan suatu proses optimasi
perkembangan individu yang tidak pernah berakhir, karena semakin banyak anak-anak
mengerjakan sesuatu dengan sensorinya secara terpadu, maka mereka akan mencapai
kompetensi dan peningkatan integrasi sensorinya secara optimal sehingga anak-anak
tersebut akan lebih banyak menguasai dan memperoleh pengalaman baru.

Pengalaman baru anak-anak sekolah biasanya diperoleh melalui proses belajar
yang berlangsung secara alami, seperti ketika melakukan kegiatan dengan menyentuh
dan merasakan, termasuk dengan bergerak dan menggerakkan sesuatu seperti dalam
proses “belajar sambil bekerja” (Learning by Doing). Rasa dari sentuhan dan gerakan
motorik dalam proses belajar itu diperoleh melalui tiga sistem syaraf dasar seperti berikut
ini:


a. Sistem taktile, memberikan pada kita dua jenis informasi yaitu: a) Rasa protektif,
yang memperingatkan pada kita untuk melindungi diri dari bahaya yang secara
potensial tersentuh oleh kita. b) Rasa diskriminatif, yang menjelaskan bahwa kita
sedang menyentuh bentuk, ukuran, dan permukaan dari objek yang kita raba atau
menyentuh kita. Jadi kita menerima rasa taktile melalui penerimaan dalam kulit
kita.
b. Sistem Vestibuler, yang memberikan informasi pada kita tentang dimana kepala
kita dalam hubungannya dengan seluruh bagian tubuh secara utuh, menjelaskan
pada kita tentang gerak, keseimbangan, dan kemampuan kita dalam menahan
gravitasi bumi, serta pengaturan badan dan otak kita secara efektif dalam aktivitas
sehari-hari. Jadi kita menerima rasa vestibuler itu pada bagian telinga dalam kita.
c. Sistem proprioseptif, menjelaskan kepada kita bahwa tanpa menggunakan
pengamatan, kita bisa memahami posisi dari bagian tubuh kita. Sistem ini sangat
penting untuk perencanaan gerak -- kemampuan untuk menyusun dan melakukan
urutan gerakan yang kompleks. Kita menerima rasa proprioseptif melalui otot-otot,
persendian, dan tulang kita.


Dengan demikian dapat disimpulkan, di rumah dan di sekolah, anak-anak harus
berpartisipasi aktif menggunakan tangannya dan seluruh pengalaman sensorimotornya
setiap hari. Apabila anak pasif -- seperti memperhatikan anak lain yang sedang bermain atau
duduk main game di depan pesawat TV -- tidak akan mendorong anak-anak kita menjadi
siswa yang memiliki kemampuan dan rasa percaya diri.

2. Pengalaman anak melalui sensori dan persepsimotor

Sensori dan persepsi merupakan dua istilah yang tidak bisa dipisahkan. Sensori
(penginderaan) merupakan suatu proses melihat, mendengar, meraba, merasa, dan
mencium sesuatu objek atau informasi yang ada di sekeliling kita, sedangkan persepsi
merupakan sensory analysis, yaitu suatu proses pengenalan, pemaknaan, dan
intepretasi terhadap objek atau informasi yang ada di sekeliling kita yang diterima melalui
penginderaan (sensori).

Latihan sensori merupakan suatu dasar perkembangan manusia, dan melatih
sensori itu adalah suatu pekerjaan yang memiliki arti yang penting dalam pendidikan.
Selama benda, yang oleh manusia tidak diungkapkan dengan menggunakan pancaindera
melalui sensorinya dan tidak dapat dibedakannya, maka berarti tanggapan sesnsori dan
pengalaman realita mereka berkurang. Pada material sensori bukan hanya berguna untuk
pengembangan keterampilan dasar akademik, melainkan juga untuk menyadarkan kesan
yang ada, seperti: kesan itu diingat, diperkuat, ditanggapi, diatur dan dibedakan serta


disusun. Dengan demikian, material sensori dapat dijadikan media yang sangat penting
untuk membantu pengembangan keterampilan dasar akademik anak-anak.Dengan
penggunaan dan pengoperasian material melalui cara menggenggam material yang
konkrit, maka anak berhasil mengembangkan pengalaman mentalnya yang meliputi
abstraksi benda dan lingkungan.

Persepsi pendengaran merupakan kemampuan anak dalam mengenal dan
menginterpretasikan apa yang didengar, meliputi: kemampuan membedakan bunyi,
membedakan tinggi rendahnya nada percakapan, bunyi dalam kata, menceriterakan
kembali apa yang didengar, dan sebagainya. Persepsi penglihatan merupakan
kemampuan anak dalam mengenal dan menginterpretasikan apa yang dilihat, antara lain:
kemampuan mengenal suatu obyek dalam ruang, membedakan satu obyek dari yang
lainnya, keterampilan menyatukan gambar, model, bentuk, huruf, dan kata-kata yang
sama, mengenal bentuk-bentuk geometri, mengenal objek (hewan, alat mainan),
mengenal angka, abjad, suku kata, dan kata. Sedangkan persepsi taktile mencakup
kemampuan anak-anak dalam mengenal objek dengan perabaan, membedakan
permukaan kasar dan halus, menelusuri bentuk geometri, dan persepsi ini diperoleh
melalui kulit dan jari-jari.

Adapun persepsi kinestetik merupakan kemampuan dan kesadaran anak pada
posisi, yakni membedakan bagian tubuh dan kontraksi otot yang dirasakan oleh tubuh.
Persepsi kinestetik ini diperoleh melalui gerakan tubuh dan kontraksi otot. Persepsi
penglihatan, pendengaran, taktile dan kinestetik ini penting untuk mendapatkan informasi
tentang objek atau pengetahuan yang diperoleh melalui koordinasi persepsi motor,
gerakan tubuh, dan hubungan timbal balik di antara persepsi tersebut. Banyak tugas-
tugas sekolah dan aktivitas kehidupan sehari-hari yang membutuhkan kesiapan dan
kematangan koordinasi persepsi sensorimotor secara simultan untuk menunjang
kesiapan anak dalam belajar membaca, menulis, dan berhitung/matematika. Demikian
pula sebaliknya, apabila seorang anak mengalami gangguan koordinasi motorik, integrasi
sensorimotor, dan persepsi, maka anak itu dapat diidentifikasi akan mengalami
hambatan perkembangan belajar.

Read Users' Comments (0)

Faktor Penyebab Hambatan Belajar

Penyebab hambatan perkembangan belajar dalam kajian ini lebih bersifat intrinsik,
bukan karena faktor eksternal (dari luar) seperti: lingkungan atau sistem pendidikan, melainkan
karena faktor dari dalam individu itu sendiri; dan diperkirakan karena disfungsi sistem syaraf
pusat. Hambatan tersebut dapat juga terjadi bersamaan dengan hambatan/gangguan lainnya
(misal: hambatan penginderaan atau tunarungu atau tunanetra, terbelakang mental,
hambatan sosial dan emosi) atau pengaruh lingkungan (misal perbedaan kultur, pengajaran
yang tidak cukup atau tidak sesuai, faktor psikogenik). Pada prinsipnya hambatan yang
terjadi ini bukanlah akibat langsung dari gangguan atau hambatan karena faktor-faktor
eksternal tersebut.

Kemungkinan yang paling tinggi sebagai penyebab terjadinya hambatan perkembangan
belajar ini adalah karena hambatan perkembangan otak (sistem syaraf pusat) pada masa
prenatal, perinatal, dan selama usia satu tahun pertama. Hambatan-hambatan tersebut
biasanya dapat berupa pendarahan di otak, mengalami sesak napas pada saat komplikasi
kelahiran sehingga sel-sel otak kekurangan oksigen. Selain itu juga ada beberapa risiko
selama kehamilan yang dapat menyebabkan seorang individu mengalami kesulitan belajar
ketika sudah masuk usia sekolah, seperti: infeksi rubella, malnutrisi (kekurangan protein dan
vitamin yang dibutuhkan tubuh selama dalam kandungan), atau stress yang terus menerus
yang dialami oleh ibu yang sedang hamil, dan beberapa faktor instrinsik lainnya.

Sedangkan Hambatan Belajar Spesifik (Specific Learning Disabilities), faktor
penyebabnya bukan karena adanya gangguan-gangguan: perseptual, kerusakan otak (brain-


injury), disfungsi minimal otak (minimal brain dysfunction), kesulitan membaca (dyslexia), dan perkembangan
aphasia., tetapi faktor penyebab hambatan belajar spesifik dapat dilihat dari tiga aspek, yaitu: medikal,
psikologis, dan edukasi. Pada aspek medikal: hambatan belajar dapat diidentifikasi dari fakta adanya
gangguan psikis/anatomis. Berdasarkan dimensi psikologis: hambatan belajar spesifik disebabkan
oleh disfungsi proses komunikasi/belajar. Dikaji dari aspek pendidikan: hambatan belajar spesifik
disebabkan karena kegagalan untuk mencapai prestasi akademik atau tingkah laku yang diharapkan.

Read Users' Comments (0)

Pengertian Hambatan Perkembangan Belajar

Apakah yang dimaksud dengan “Hambatan Perkembangan Belajar” itu? Sebenarnya
sudah digambarkan oleh Goldstein pada tahun 1966, mengingat pada waktu itu banyak anak
di sekolah umum yang mengalami hambatan ini. Selanjutnya topik ini pada waktu itu menjadi
objek penelitian yang intensif dari para ahli syaraf, pendidikan, dan psikologi. Meskipun
demikian istilah hambatan perkembangan belajar masih belum jelas dan “tidak standard”.
Hingga tahun 1970-an setiap ahli mempunyai pengertian yang beragam tetapi sudah tidak
jauh berbeda maknanya. Kemudian pada tahun 1987, the National Joint Committe on
Learning Disabilities (NJCLD) menetapkan bahwa “Hambatan Perkembangan Belajar” adalah
suatu istilah umum yang berkenaan dengan hambatan pada kelompok heterogen yang benar-
benar mengalami kesulitan dalam memahami dan menggunakan kemampuan pendengaran,
bicara, membaca, menulis, berfikir atau matematik.

Selain konsep yang dijelaskan tersebut ada juga beberapa kasus yang termasuk
hambatan perkembangan belajar, yaitu Hambatan Belajar Spesifik (Specific Learning
Disabilities). Anak-anak dengan kesulitan belajar spesifik adalah anak-anak yang mengalami hambatan
satu/beberapa proses psikologis dasar, seperti: koordinasi motorik, sensori-persepsi,


pemahaman/penggunaan bahasa, bicara, menulis atau kemampuan tidak sempurna dalam mendengar,
berpikir, bicara, membaca, mengeja, dan mengerjakan hitungan matematik dan sebagainya.

Pada dasarnya banyak ragam definisi Hambatan Perkembangan Belajar tersebut mengandung
unsur-unsur sebagai berikut, yaitu:

1. disfungsi neurologis
2. pola pertumbuhan yang tidak seimbang/tak genap
3. hambatan dalam tugas-tugas akademis dan belajar
4. ketidaksesuaian antara prestasi dan potensi serta
5. sebab-sebab lainnya.


Anak-anak yang mengalami hambatan belajar ini pada umumnya memiliki inteligensi kategori
rata-rata (average), sedikit di bawah rata-rata atau bahkan banyak yang termasuk kategori di
atas rata-rata (sangat cerdas/gifted), meskipun mereka mengalami kesulitan belajar sebagai
dampak hambatan minimal pada fungsi penginderaan/persepsi dan motorik.

Read Users' Comments (0)

Hambatan Belajar Pada Anak

Beberapa penelitian yang dilakukan pada siswa Sekolah Dasar dan Menengah dari
beberapa Negara bagian di USA, menunjukkan sekitar 9 % dari seluruh siswa tersebut
diidentifikasi mengalami hambatan perkembangan belajar. Di Indonesia kasus ini jumlahnya
lebih banyak, yaitu sekitar 10 – 15 % dari seluruh siswa SD dan SMP (Depdiknas, Badan
Penelitian dan Pengembangan, 2003). Pada waktu itu, hambatan perkembangan belajar
masih kurang dipahami dan banyak diperdebatkan, karena dianggap sebagai kondisi
ketidakmampuan fisik dan lingkungan yang mempengaruhi siswa.

Hambatan perkembangan belajar bukan suatu hambatan tunggal, tetapi merupakan
kategori umum dari pendidikan khusus yang terdiri dari hambatan dalam beberapa dari tujuh
bidang khusus ini, yaitu:

1. bahasa reseptif (memaknai apa yang didengar)
2. bahasa ekspresif (bicara)
3. keterampilan dasar membaca
4. memahami bacaan
5. ekspresi tulisan
6. hitungan matematik
7. berpikir matematik.


Bentuk lainnya dari hambatan ini yang sering terjadi antara lain kurangnya keterampilan
sosial dan gangguan emosi atau perilaku seperti hambatan pemusatan perhatian
(ADD/Attention Deficit Disorder). Hambatan perkembangan belajar tidak sama dengan
ketidakmampuan membaca atau disleksia meskipun ini sering disalah artikan seperti itu.
Tetapi apabila kita kaji lebih jauh, sebenarnya sangat banyak informasi yang ada berkenaan
dengan hambatan perkembangan belajar tersebut, berhubungan dengan kesulitan membaca,
dan banyak anak-anak dengan kesulitan belajar yang kekurangan utamanya dalam
membaca.




Suatu bagian yang penting dari definisi hambatan perkembangan belajar menurut the
IDEA (the Individuals with Disabilities Education Act) adalah bukan termasuk atau tidak dapat
dihubungkan terutama dengan tunagrahita (Mentally Retarded), gangguan emosi dan perilaku
(tunalaras), perbedaan budaya, atau kondisi lingkungan atau ekonomi yang tidak
menguntungkan. Dalam hal ini, konsep hambatan perkembangan belajar itu fokus pada
ketidaksesuaian antara prestasi akademik seorang anak dengan kemampuan dia yang
kelihatan dan aktivitasnya dalam belajar. Diperjelas oleh hasil penelitian Zigmond (2003: 72),
bahwa “hambatan ini merupakan refleksi masalah belajar yang tidak terduga dalam suatu
kemampuan anak yang nampak.”

Jadi masalah yang berhubungan dengan hambatan perkembangan belajar pada
umumnya meliputi validitas yang diperkirakan akan terjadi, kesulitan dalam identifikasi dan
pembelajaran pada anak hambatan perkembangan belajar, melakukan identifikasi, klasifikasi,
pelaksanaan intervensi dan membedakan jenis-jenis hambatan belajar (seperti: hambatan
membaca, menulis, dan matematik) yang berhubungan dengan masalah hambatan atensi
(pemusatan perhatian) dan keterampilan sosial. Dengan kondisi seperti ini, maka implikasinya
bagi persiapan guru dan kebijakan sekolah dalam melayani anak-anak tersebut menjadi tidak
optimal.

Read Users' Comments (0)

DISGRAFIA


Kelainan neurologis ini menghambat kemampuan menulis yang meliputi hambatan secara fisik, seperti tidak dapat memegang pensil dengan mantap ataupun tulisan tangannya buruk. Anak dengan gangguan disgrafia sebetulnya mengalami kesulitan dalam mengharmonisasikan ingatan dengan penguasaan gerak ototnya secara otomatis saat menulis huruf dan angka.

Kesulitan dalam menulis biasanya menjadi problem utama dalam rangkaian gangguan belajar, terutama pada anak yang berada di tingkat SD. Kesulitan dalam menulis seringkali juga disalahpersepsikan sebagai kebodohan oleh orang tua dan guru. Akibatnya, anak yang bersangkutan frustrasi karena pada dasarnya ia ingin sekali mengekspresikan dan mentransfer pikiran dan pengetahuan yang sudah didapat ke dalam bentuk tulisan. Hanya saja ia memiliki hambatan.

Sebagai langkah awal dalam menghadapinya, orang tua harus paham bahwa disgrafia bukan disebabkan tingkat intelegensi yang rendah, kemalasan, asal-asalan menulis, dan tidak mau belajar. Gangguan ini juga bukan akibat kurangnya perhatian orang tua dan guru terhadap si anak, ataupun keterlambatan proses visual motoriknya.

CIRI-CIRI

Ada beberapa ciri khusus anak dengan gangguan ini. Di antaranya adalah:

1. Terdapat ketidakkonsistenan bentuk huruf dalam tulisannya.

2. Saat menulis, penggunaan huruf besar dan huruf kecil masih tercampur.

3. Ukuran dan bentuk huruf dalam tulisannya tidak proporsional.

4. Anak tampak harus berusaha keras saat mengkomunikasikan suatu ide, pengetahuan, atau pemahamannya lewat tulisan.

5. Sulit memegang bolpoin maupun pensil dengan mantap. Caranya memegang alat tulis seringkali terlalu dekat bahkan hampir menempel dengan kertas.

6. Berbicara pada diri sendiri ketika sedang menulis, atau malah terlalu memperhatikan tangan yang dipakai untuk menulis.

7. Cara menulis tidak konsisten, tidak mengikuti alur garis yang tepat dan proporsional.

8. Tetap mengalami kesulitan meskipun hanya diminta menyalin contoh tulisan yang sudah ada.

MEMBANTU ANAK DISGRAFIA

Ada beberapa hal yang bisa dilakukan orang tua untuk membantu anak dengan gangguan ini. Di antaranya:

1. Pahami keadaan anak

Sebaiknya pihak orang tua, guru, atau pendamping memahami kesulitan dan keterbatasan yang dimiliki anak disgrafia. Berusahalah untuk tidak membandingkan anak seperti itu dengan anak-anak lainnya. Sikap itu hanya akan membuat kedua belah pihak, baik orang tua/guru maupun anak merasa frustrasi dan stres. Jika memungkinkan, berikan tugas-tugas menulis yang singkat saja. Atau bisa juga orang tua
meminta kebijakan dari pihak sekolah untuk memberikan tes kepada anak dengan gangguan ini secara lisan, bukan tulisan.

2. Menyajikan tulisan cetak

Berikan kesempatan dan kemungkinan kepada anak disgrafia untuk belajar menuangkan ide dan konsepnya dengan menggunakan komputer atau mesin tik. Ajari dia untuk menggunakan alat-alat agar dapat mengatasi hambatannya. Dengan menggunakan komputer, anak bisa memanfaatkan sarana korektor ejaan agar ia mengetahui kesalahannya.

3. Membangun rasa percaya diri anak

Berikan pujian wajar pada setiap usaha yang dilakukan anak. Jangan sekali-kali menyepelekan atau melecehkan karena hal itu akan membuatnya merasa rendah diri dan frustrasi. Kesabaran orang tua dan guru akan membuat anak tenang dan sabar terhadap dirinya dan terhadap usaha yang sedang dilakukannya.

4. Latih anak untuk terus menulis

Libatkan anak secara bertahap, pilih strategi yang sesuai dengan tingkat kesulitannya untuk mengerjakan tugas menulis. Berikan tugas yang menarik dan memang diminatinya, seperti menulis surat untuk teman, menulis pada selembar kartu pos, menulis pesan untuk orang tua, dan sebagainya. Hal ini akan meningkatkan kemampuan menulis anak disgrafia dan membantunya menuangkan konsep abstrak tentang huruf dan kata dalam bentuk tulisan konkret.


Sumber : http://www.tabloid-nakita.com/Panduan/panduan05233-02.htm

Read Users' Comments (0)

DISKALKULIA


Menurut Jacinta F. Rini, M.Psi, dari Harmawan Consulting, Jakarta, diskalkulia dikenal juga dengan istilah "math difficulty" karena menyangkut gangguan pada kemampuan kalkulasi secara matematis. Kesulitan ini dapat ditinjau secara kuantitatif yang terbagi menjadi bentuk kesulitan berhitung (counting) dan mengkalkulasi (calculating). Anak yang bersangkutan akan menunjukkan kesulitan dalam memahami proses-proses matematis. Hal ini biasanya ditandai dengan munculnya kesulitan belajar dan mengerjakan tugas yang melibatkan angka ataupun simbol matematis.

CIRI-CIRI

Inilah beberapa hal yang bisa dijadikan pegangan:

1. Tingkat perkembangan bahasa dan kemampuan lainnya normal, malah seringkali mempunyai memori visual yang baik dalam merekam kata-kata tertulis.

2. Sulit melakukan hitungan matematis. Contoh sehari-harinya, ia sulit menghitung transaksi (belanja), termasuk menghitung kembalian uang. Seringkali anak tersebut jadi takut memegang uang, menghindari transaksi, atau apa pun kegiatan yang harus melibatkan uang.

3. Sulit melakukan proses-proses matematis, seperti menjumlah, mengurangi, membagi, mengali, dan sulit memahami konsep hitungan angka atau urutan.

4. Terkadang mengalami disorientasi, seperti disorientasi waktu dan arah. Si anak biasanya bingung saat ditanya jam berapa sekarang. Ia juga tidak mampu membaca dan memahami peta atau petunjuk arah.

5. Mengalami hambatan dalam menggunakan konsep abstrak tentang waktu. Misalnya, ia bingung dalam mengurut kejadian masa lalu atau masa mendatang.

6. Sering melakukan kesalahan ketika melakukan perhitungan angka-angka, seperti proses substitusi, mengulang terbalik, dan mengisi deret hitung serta deret ukur.

7. Mengalami hambatan dalam mempelajari musik, terutama karena sulit memahami notasi, urutan nada, dan sebagainya.

8. Bisa juga mengalami kesulitan dalam aktivitas olahraga karena bingung mengikuti aturan main yang berhubungan sistem skor.

FAKTOR PENYEBAB

Ada beberapa faktor yang melatarbelakangi gangguan ini, di antaranya:

1. Kelemahan pada proses penglihatan atau visual

Anak yang memiliki kelemahan ini kemungkinan besar akan mengalami diskalkulia. Ia juga berpotensi mengalami gangguan dalam mengeja dan menulis dengan tangan.

2. Bermasalah dalam hal mengurut informasi

Seorang anak yang mengalami kesulitan dalam mengurutkan dan mengorganisasikan informasi secara detail, umumnya juga akan sulit mengingat sebuah fakta, konsep ataupun formula untuk menyelesaikan kalkulasi matematis. Jika problem ini yang menjadi penyebabnya, maka anak cenderung mengalami hambatan pada aspek kemampuan lainnya, seperti membaca kode-kode dan mengeja, serta apa pun yang membutuhkan kemampuan mengingat kembali hal-hal detail.

3. Fobia matematika

Anak yang pernah mengalami trauma dengan pelajaran matematika bisa kehilangan rasa percaya dirinya. Jika hal ini tidak diatasi segera, ia akan mengalami kesulitan dengan semua hal yang mengandung unsur hitungan.

CARA PENANGGULANGAN

Diagnosa diskalkulia harus dilakukan oleh spesialis yang berkompeten di bidangnya berdasarkan serangkaian tes dan observasi yang valid dan terpercaya. Bentuk terapi atau treatment yang akan diberikan pun harus berdasarkan evaluasi terhadap kemampuan dan tingkat hambatan anak secara detail dan menyeluruh.

Bagaimanapun, kesulitan ini besar kemungkinan terkait dengan kesulitan dalam aspek-aspek lainnya, seperti disleksia. Perbedaan derajat hambatan akan membedakan tingkat treatment dan strategi yang diterapkan. Selain penanganan yang dilakukan ahli, orang tua pun disarankan melakukan beberapa latihan yang dapat mengurangi gangguan belajar, yaitu:

1. Cobalah memvisualisasikan konsep matematis yang sulit dimengerti, dengan menggunakan gambar ataupun cara lain untuk menjembatani langkah-langkah

atau urutan dari proses keseluruhannya.

2. Bisa juga dengan menyuarakan konsep matematis yang sulit dimengerti dan minta si anak mendengarkan secara cermat. Biasanya anak diskalkulia tidak mengalami kesulitan dalam memahami konsep secara verbal.

3. Tuangkan konsep matematis ataupun angka-angka secara tertulis di atas kertas agar anak mudah melihatnya dan tidak sekadar abstrak. Atau kalau perlu, tuliskan urutan angka-angka itu untuk membantu anak memahami konsep setiap angka sesuai dengan urutannya.

4. Tuangkan konsep-konsep matematis dalam praktek serta aktivitas sederhana sehari-hari. Misalnya, berapa sepatu yang harus dipakainya jika bepergian, berapa potong pakaian seragam sekolahnya dalam seminggu, berapa jumlah kursi makan yang diperlukan jika disesuaikan dengan anggota keluarga yang ada, dan sebagainya.

5. Sering-seringlah mendorong anak melatih ingatan secara kreatif, entah dengan cara menyanyikan angka-angka, atau cara lain yang mempermudah menampilkan ingatannya tentang angka.

6. Pujilah setiap keberhasilan, kemajuan atau bahkan usaha yang dilakukan oleh anak.

7. Lakukan proses asosiasi antara konsep yang sedang diajarkan dengan kehidupan nyata sehari-hari, sehingga anak mudah memahaminya.

8. Harus ada kerja sama terpadu antara guru dan orang tua untuk menentukan strategi belajar di kelas, memonitor perkembangan dan kesulitan anak, serta melakukan tindakan-tindakan yang perlu untuk memfasilitasi kemajuan anak. Misalnya, guru memberi saran tertentu pada orang tua dalam menentukan tugas di rumah, buku-buku bacaan, serta latihan yang disarankan.


Sumber : Nakita, Pandu. 2002.http://www.tabloid-nakita.com/Panduan/panduan05233-02.htm. Bekasi: Rabu 7 April 2010

Read Users' Comments (0)

Gangguan Belajar

DEFINISI

Gangguan belajar meliputi kemampuan untuk memperoleh, menyimpan, atau menggunakan keahlian khusus atau informasi secara luas, dihasilkan dari kekurangan perhatian, ingatan, atau pertimbangan dan mempengaruhi performa akademi.

Gangguan belajar sangat berbeda dari keterlambatan mental dan terjadi dengan normal atau bahkan fungsi intelektual tinggi. Gangguan belajar hanya mempengaruhi fungsi tertentu, sedangkan pada anak dengan keterlambatan mental, kesulitan mempengaruhi fungsi kognitif secara luas. Terdapat tiga jenis gangguan belajar : gangguan membaca, gangguan menuliskan ekspresi, dan gangguan matematik. Dengan demikian, seorang anak dengan gangguan belajar bisa mengalami kesulitan memahami dan mempelajari matematika yang signifikan, tetapi tidak memiliki kesulitan untuk membaca, menulis, dan melakukan dengan baik pada subjek yang lain. Diseleksia adalah gangguan belajar yang paling dikenal. Gangguan belajar tidak termasuk masalah belajar yang disebabkan terutama masalah penglihatan, pendengaran, koordinasi, atau gangguan emosional.

PENYEBAB

Meskipun penyebab gangguan belajar tidak sepenuhnya dimengerti. Mereka termasuk kelainan pada proses dasar yang berhubungan dalam memahami atau menggunakan ucapan atau penulisan bahasa atau numerik dan pertimbangan ruang.

Diperkirakan 3 sampai 15% anak bersekolah di Amerika Serikat memerlukan pelayanan pendidikan khusus untuk menggantikan gangguan belajar. Anak laki-laki dengan gangguan belajar bisa melebihi anak gadis lima banding satu, meskipun anak perempuan seringkali tidak dikenali atau terdiagnosa mengalami gangguan belajar.

Kebanyakan anak dengan masalah tingkah laku tampak kurang baik di sekolah dan diperiksa dengan psikologis pendidikan untuk gangguan belajar. Meskipun begitu, beberapa anak dengan jenis gangguan belajar tertentu menyembunyikan gangguan mereka dengan baik, menghindari diagnosa, dan oleh karena itu pengobatan, perlu waktu yang lama.

GEJALA

Anak kecil kemungkinan lambat untuk mempelajari nama-nama warna atau huruf, untuk menyebutkan kata-kata untuk objek yang dikenal, untuk menghitung, dan untuk kemajuan pada awal keahlian belajar lain. Belajar untuk membaca dan menulis kemungkinan tertunda. Gejala-gejala lain dapat berupa perhatian dengan jangka waktu yang pendek dan kemampuan yang kacau, berhenti bicara, dan ingatan dengan jangka waktu yang pendek. Anak tersebut bisa mengalami kesulitan dengan aktifitas yang membutuhkan koordinasi motor yang baik, seperti mencetak dan mengkopi.

Anak dengan gangguan belajar bisa mengalami kesulitan komunikasi. Beberapa anak mulanya menjadi frustasi dan kemudian mengalami masalah tingkah laku, seperti menjadi mudah kacau, hiperaktif, menarik diri, malu, atau agresif.

DIAGNOSA

Anak yang tidak membaca atau belajar pada tingkatan yang diharapkan untuk kemampuan verbal atau kecerdasan harus dievaluasi. Pemeriksaan pendengaran dan penglihatan harus dijalankan, karena masalah pikiran sehat ini bisa juga berhubungan dengan keahlian membaca dan menulis.

Dokter meneliti anak tersebut untuk berbagai gangguan fisik. Anak tersebut melakukan rangkaian tes kecerdasan, baik verbal maupun non verbal, dan tes akademik pada membaca, menulis, dan keahlian aritmatik.

PENGOBATAN

Pengobatan yang paling berguna untuk gangguan belajar adalah pendidikan yang secara hati-hati disesuaikan dengan individu anak. Cara seperti membatasi makanan aditif, menggunakan vitamin dalam jumlah besar, dan menganalisa sistem anak untuk trace mineral seringkali dicoba tetapi tidak terbukti. Tidak ada obat-obatan yang cukup efektif pada pencapaian akademis, intelegensi, dan kemampuan pembelajaran umum. Karena beberapa anak dengan gangguan belajar juga mengalami ADHD, obat-obatan tertentu, seperti methylphenidate, bisa meningkatkan perhatian dan konsentrasi, meningkatkan kemampuan anak untuk belajar.


Sumber : http://medicastore.com/penyakit/3187/Gangguan__Belajar.html

Read Users' Comments (1)komentar

GANGGUAN RETT

Gangguan RETT dikenalkan oleh Andreas Rett (1965) untuk menjelaskan perkembangan 22 anak perempuan yang mengalami perkembangan normal selama sekurangnya enam bulan, diikuti oleh pemburukan perkembangan yang menakutkan. Prevalensi kejadian antara 6–7 per 100.000 anak perempuan. Adapun kriteria diagnostik sindrom RETT menurut DSM-IV adalah sebagai berikut:

Kriteria Diagnostik untuk Gangguan Rett

  1. Semua berikut:

1) Perkembangan pranatal dan perinatal yang tampaknya normal.

2) Perkembangan psikomotor yang tampaknya normal selama lima bulan pertama setelah lahir.

3) Lingkaran kepala yang normal saat lahir.

  1. Onset semua berikut ini setelah periode perkembangan normal:

1) Perlambatan pertumbuhan kepala antara usia 5 dan 48 bulan.

2) Hilangnya keterampilan tangan bertujuan yang sebelumnya telah dicapai antara usia 5 dan 30 bulan dengan diikuti perkembangan gerakan tangan stereotipik (misalnya, memuntirkan tangan atau mencuci tangan).

3) Hilangnya keterlibatan sosial dalam awal perjalanan (walaupun seringkali interaksi sosial tumbuh kemudian).

4) Terlihatnya gaya berjalan atau gerakan batang tubuh yang terkoordinasi secara buruk.

5) Gangguan parah pada perkembangan bahasa ekspresif dan reseptif dengan retardasi psikomotor yang parah.

Catatan:

Yang membedakan gangguan Rett dengan Autis:

  1. Pada gangguan autis penyimpangan perkembangan secara umum terjadi sejak awal.
  2. Pada gangguan Rett, gerakan tangan yang spesifik dan karakteristik selalu ditemukan, sementara pada autis tidak.
  3. Koordinasi yang buruk, ataxia dan apraxia banyak ditemukan pada gangguan Rett.
  4. Gangguan verbal biasanya hilang sama sekali.
  5. Pada gangguan Rett kejang ditemukan sejak awal, sementara pada gangguan autis biasanya sering terjadi pada masa remaja.
  6. Adanya disorganisasi pernafasan.
Sumber : haris.2010.http://harismasterpsikology.ngeblogs.com/2010/03/16/gangguan-rett/.Bekasi:Rabu 7 April 2010

Read Users' Comments (0)

Gangguan Disintegratif Anak

DEFINISI

Gangguan disintegratif masa kanak-kanak, anak yang rupanya normal mulai bertindak lebih muda (mundur) sesudah usia 3.

Pada kebanyakan anak, perkembangan fisik dan jiwa terjadi dengan cepat. Sering terjadi pada anak untuk mengalami langkah mundur; misalnya, seorang anak yang terlatih ke WC sekali-sekali mengompol. Gangguan masa kecil disintegratif, tetapi, adalah kekacauan serius yang langka dimana seorang anak dengan usia lebih dari3 berhenti berkembang sevcara normal dan mengalami kemunduran pada banyak fungsi di bawahnya, biasanya mengikuti sakitnya gawat, seperti infeksi otak dan susunan syaraf.

Ciri anak dengan gangguan disintegratif masa kanak-kanak berkembang secara normal sam[ai usia 3 atau 4 tahun, mempelajari ketrampilan wicara, buang air dengan benar, dan memperlihatkan prilaku sosial yangs sesuai. Lalu, setelah beberapa minggu atau bulan anak cepat-marah dan murung, anak menjalani kemunduran nyata. Dia mungkin kehilangan kemampuan berbahasa yang diperoleh dulunya, gerakan, atau ketrampilan sosial, dan dia mungkin tidak lagi mempunyai kontrol pada kandung kemih atau usus besarnya. Juga, anak mengalami kesukaran dengan interaksi sosial dan mulai melakukan kelakuan berulang mirip yang terjadi pada anak dengan penyakit autisme. Cukup sering anak lambat laun memburuk sampai derajat yang sangat terbelakang. Seorang dokter membuat diagnosa berdasarkan gejala dan pencarian untuk akar gangguan.

Gangguan disintegratif masa kanak-kanak tidak bisa diobati secara khusus atau disembuhkan, dan kebanyakan anak, khususnya dengan keterbelakangan yang parah, memerlukan perawatan seumur hidup.

Sumber : medicastore.com

Read Users' Comments (0)

Asperger's Syndrome

Definisi
• Salah satu dari autis spectrum disorders
atau pervasive developmental disorder
(PDD)
• Dicirikan - hendaya dalam interaksi
sosial, dimana terdapat pola perilaku yang
steriotipik, keterbatasan dalam aktivitas
dan minat, tanpa disertai dengan
keterlambatan perkembangan kognitif atau
berbahasa.

Interaksi Sosial
• Keterbatasan dalam menunjukkan empati
• Kesulitan dalam membangun persahabatan
• Kesulitan saling berbagi kesenangan
• Keterbatasan dalam perilaku nonverbal =
eye contact,
ekpresi wajah, posture dan gesture.
• Beda dengan anak autis - pada Asperger’s
Syndrome =- berusaha untuk mendekati
orang lain = “ active but Odd"

Kesenangan & perilaku yang
terbatas & berulang
• Terpaku pada ritual dan rutinitas yang
tidak fleksibel
• Preokupasi terhadap suatu hal tertentu

Pembicaraan dan bahasa
• Abnormalitas - verbosity; abrupt
transitions; literal interpretations and
miscomprehension of nuance;
• Menggunakan arti yang metafor
• Defisit dalam persepsi pendengaran
• Pembicaraan yang ideosyncratic
• Keanehan dalam - kekerasan suara,
pitch, intonasi,prosody dan rhythm.

Tiga hal yang menjadi pola dalam
komunikasi pasien Asperger’s Syndrome :
 Pembicaraan bisa ditandai dengan poor
prosady  inflection
& intonasi tidak se
kaku autis.
Tangensial & circumstansial
Gaya komunikasinya ditandai dengan
verbosity

History
• Hans Asperger
• 1944
• Spesialis Anak
• Yang tertarik khusus dalam
edukasi 4 anak  sulit
dalam berinteraksi dalam sosial
grup  sosial isolasi

Epidemiologi
• Ratarata
1 – 2 : 10.000
• Antara pria : wanita =9 : 1
• Dilaporkan  memiliki fungsi intelektual
yang normal  tidak masuk kategori autis,
tapi overlapping dengan PDD NOS

Etiologi
• Masih belum diketahui
• Penelitian  Asperger’s syndrom suatu
spektrum dari autis  berhubungan
dengan genetik.
• Ada beberapa laporan  pasien
Asperger’s sindrom memiliki brain anomali
dengan IQ yang normal atau superior.
• Beberapa melaporkan  teratogen 
obat yang menyebabkan defek pada bayi,
biasanya 8 minggu, dari masa konsepsi.

Skrining
• The Asperger Syndrome Diagnostic Scale
(ASDS),
• Autism Spectrum Screening Questionnaire
(ASSQ),
• Childhood Asperger Syndrome Test
(CAST),
• Gilliam Asperger’s Disorder Scale
(GADS),
• Krug Asperger’s Disorder Index (KADI)

Diagnosis
• Kualitas hendaya dalam interaksi sosial &
keterbatasan terhadap minat  seperti
yang ditemukan pada autis.
• Yang menjadi kontrasnya :
tidak mempunyai kriteria didalam
kelempok gejala berbahasa dan
komunikasi dan tidak mempunyai
keterlambatan dalam berbahasa, kognitif,
ketrampilan merawat diri sendiri.

• Menunjukkan ketertarikan untuk
bersahabat dan bertemu dengan orang
tapi tidak sensitif dengan perasaan orang
lain.
• Kesulitan/ frustasi di dalam menjalani
persahabatan, beberapa pasien asperger
 gangguan mood
• Intuisinya minimal, spontaniusnya
terbatas, lebih banyak kaku di dalam
interaksi sosial.

Diagnosis diferensial
• PDD NOS 
hendaya sosial & komunikasi
> berat dibanding Asperger’s syndrom
Kepribadian skizoid  tidak menunjukan
keparahan dalam hendaya sosial atau
pola perkembangan awal yang ditemukan
pada Asperger.
• The schizoprenia spectrum,
• ADHD
• Stereotypic movement

Penatalaksanaan
• The training of social skills  effective
interpersonal interactions;
• CBT 
untuk memperbaiki stress
management yang berhubungan dengan
anxiety or explosive emotions,
dan untuk
menghentikan obsessive interests dan
repetitive routines;
• Psikofarmaka : Risperidon dan
Olanzapine terbukti baik untuk pasien

• Risperidone 
dapat mengurangi
repetitive and selfinjurious
behaviors,
aggressive outbursts and impulsivity, dan
memperbaiki stereotypical patterns of
behavior and social relatedness.
• The selective serotonin reuptake inhibitors
selective (SSRIs)  fluoxetine,
fluvoxamine dan setraline  efektif untuk
mengatasi restricted and repetitive
interests and behaviors

• Occupational or physical therapy
untuk
sensory integration and motor
coordination
yang kurang;
• Intervensi komunikasi sosial,  speech
therapy
untuk menolong pasien dapan
wawancara dengan baik.
• Melatih dan mendukung orangtua 
teknikteknik
yang dapat digunakan di
dalam rumah.
• Selain itu  strategi untuk mengerti
kekuatan dan kelemahan, memperbaiki
copingnya.

Prognosis
• Individu dengan Asperger ‘Syndrome 
dapat mempunyai harapan hidup yang
normal tetapi pravelensi komorbid dengan
gangguan psikiatri sering ditemukan.
Dapat sekolah regular  tapi perlu didukung
 rentan karena terlihat nyentrik  biasanya
bukan karena defisit dalam pelajaran ttp
kesulitan sosial dan perilaku.
• Memerlukan pendidikan yang khusus
• Dewasa  kesulitan dlm self care, organisasi
dan hubungan sosial dan hubungan
romantis.


sumber : Widyawati Ika.2007.http://www.pdfexplore.com/book/gangguan-asperger-pdf.html.Bekasi: Rabu 07 April 2010

Read Users' Comments (0)

Deteksi dini disleksia pada anak

Kesulitan membaca yang tidak diharapkan (kesulitan membaca pada seseorang yang tidak
sesuai dengan kemampuan kognitif orang tersebut atau tidak sesuai dengan usia, tingkat
kepandaian dan tingkat pendidikan), selain itu terdapat masalah yang berhubungan dengan
proses fonologik.
Pada anak usia prasekolah, adanya riwayat keterlambatan berbahasa atau tidak tampaknya
bunyi dari suatu kata (kesulitan bermain kata-kata yang berirama, kebingungan dalam
menghadapi kata-kata yang mirip, kesulitan belajar mengenal huruf) disertai dengan adanya
riwayat keluarga yang menderita disleksia, menunjukkan faktor risiko yang bermakna untuk
menderita disleksia.
Pada anak usia sekolah biasanya keluhan berupa kurangnya tampilan di sekolah tetapi sering
orangtua dan guru tidak menyadari bahwa anak tersebut mengalami kesulitan membaca.
Biasanya anak akan terlihat terlambat berbicara, tidak belajar huruf di taman kanak-kanak dan
tidak belajar membaca pada sekolah dasar. Anak tersebut akan makin tertinggal dalam hal
pelajaran sedangkan guru dan orangtua biasanya makin heran mengapa anak dengan tingkat
kepandaian yang baik mengalami kesulitan membaca.
Walaupun anak telah diajarkan secara khusus, biasanya anak tersebut akan dapat membaca
tetapi lebih lambat. Anak tidak akan fasih membaca dan tidak dapat mengenali huruf secara
tepat. Disgrafia biasanya menyertai disleksia. Selain itu penderita disleksia akan mengalami
gangguan kepercayaan diri.


sumber : Mutia Nst.2007.http://www.pdfexplore.com.Bekasi:Rabu 07 April 2010

Read Users' Comments (0)

Disleksia Anak

Disleksia ditandai dengan adanya kesulitan membaca pada anak maupun dewasa yang
seharusnya menunjukkan kemampuan dan motivasi untuk membaca secara fasih dan akurat.
Disleksia merupakan salah satu masalah tersering yang terjadi pada anak dan dewasa. angka
kejadian di dunia berkisar 5-17% pada anak usia sekolah. Disleksia adalah gangguan yang
paling sering terjadi pada masalah belajar. Kurang lebih 80% penderita gangguan belajar
mengalami disleksia.
Angka kejadian disleksia lebih tinggi pada anak laki-laki dibandingkan dengan perempuan yaitu
berkisar 2:1 sampai 5:1. Ada juga yang mengatakan bahwa ternyata tidak terdapat perbedaan
angka kejadian antara laki-laki dan perempuan.

Read Users' Comments (0)