STRESS






Pengertian
Menurut Charles D, Spielberger (dalam Ilandoyo, 2001:63) menyebutkanbahwa stres adalah tuntutan-tuntutan eksternal yang mengenai seseorang, misalnyaobyek-obyek dalam lingkungan atau suatu stimulus yang secara obyektif adalahberbahaya. Stres juga biasa diartikan sebagai tekanan, ketegangan atau gangguanyang tidak menyenangkan yang berasal dari luar diri seseorang.Luthans (dalam Yulianti, 2000:10) mendefinisikan stres sebagai suatutanggapan dalam menyesuaikan diri yang dipengaruhi oleh perbedaan individu danproses psikologis, sebagai konsekuensi dari tindakan Hngkungan, situasi atauperistiwa yang terlalu banyak mengadakan tuntutan psikologis dan fisik seseorang,Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa stres kerja timbul karena tuntutanlingkungan dan tanggapan setiap individu dalam menghadapinya dapat berbeda.
Menurut Woolfolk dan Richardson (1979) menyatakan bahwa adanya system kognitif ,apresiawa stress l menyebabkan segala peristiwa yang terjadi disekitar kita akan dihayati sebagai suatu stress berdasarkan arti atau interprestasi yang kita berikan terhadap peristiwa tersebut, dan bukan karena peristiwa itu sendiri.Karenanya dikatakan bahwa stress adalah suatu persepsi dari ancaman atau dari suatu bayangan akan adanya ketidaksenangan yang menggerakkan, menyiagakan atau mambuat aktif organisme. Sebelumnya Selye (1936 ) telah menggambarkan bahwa strees adalah suatu sindrom biologic atau badaniah.Didalam eksperimennya, seekor tikus percobaan mengalami kedinginan pembedahan atau kerusakan sum-sum tulang belakang, akan memperlihatkan suatu sindroma yang khas.Gejala-gejala itu tidak tergantung pada jenis zat atau ruda yang menimbulkan kerusakan,sindroma ini lebih merupan perwujudan suatu keadaan yang dinamakan stress denagn gejala-gejala sistembilogik mahluk hidup itu. Selye menekankan bahwa stress terutama mewujudkan diri sebagai suatu reaksi badaniah yan dapat diamati dan diukur.Stres merupakan suatu reaksi penyusuaian diri,suatu sindroma penyusuaian umum terhadap rangsangan y
ang berbeda-beda.
Menurut Mason (1971 ) membantah konsep yang mengatakan bahwa stress hanyalah merupak badaniah saja. Ditunjukkkan nya bahwa daya adaptasi seseoarang itu tergantung pada faktor-faktor kejiwaan atau psikologiknya yang menyertai stresor. Stres bukanlah konsep faal saja, lebih banyak dilihat sebagai konsep perilaku, setiap reaksi organisme terhadap stresor memungkinkan sekali terlebih dahulu dimulai oleh kelainan perilaku dan kemudian mungkin baru terjadi akibat faal, kemudian Mason (1976 ) menunjukkan bahwa terdapat pola hormonal yang berbeda terhadap stresor fisik yang berbeda. Pada penelitain Wolf dan Goodel ( 1968 ) bahwa individu-individu yang mengalami kesukaran dengan suatu sistem organ , cenderung akan bereaksi etrhadap stresor dengan gejala dan keluhan dalam sistem organ yang sama.Kondisi sosial, perasaan dan kemampuan untuk menanggulangi masalah, ternyata mempengaruhi juga aspek yang berbeda- beda dari reaksi terhadap stres.
Cary Cooper dan Alison Straw (1995:8-15) mengemukakan gejala stresdapat berupa tanda-tanda berikut ini:
Fisik, yaitu nafas memburu, mulut dan kerongkongan kering, tanganlembab, rnerasa panas, otot-otot tegang, pencemaan terganggu, sembelit, letih yangtidak beralasan, sakit kepala, salah urat dan gelisah.
Perilaku, yaitu perasaan bingung, cemas dan sedih, jengkel, saiah paham,tidak berdaya, tidak mampu berbuat apa-apa, gelisah, gagal, tidak menarik,kehilangan semangat, sulit konsentrasi, sulit berfikir jemih, sulit membuatkcputusan, hilangnya kreatifitas, hilangnya gairah dalam penampilan danhilangnya minat terhadap orang lain.
Watak dan kepribadian, yaitu sikap hati-hati menjadi cermat yangberlebihan, cemas menjadi lekas panik, kurang percaya diri menjadi rawan,penjengkel menjadi meledak-ledak.
Sumberdan macam-macam stresor antara lain :
1.Kondisibiologik.Berbagai penyakit infeksi , trauma fisik dengan kerusakan organ biologik,mal nutrisi, kelelahan fisik, kekacauan fungsi biologik yang kontinyu
2.KondisiPsikologik.a. Berbagai konflik dan frustasi yang berhubungan dengan kehidupan moderen.b. berbagai kondisi yang mengakibatkan sikap atau perasaan rendah diri (self devaluation ) seperti kegagalan mencapai sesuatu ynga sangt di idam-idamkan.c. berbagai keadaan kehilangan seperti posisi, keuangan, kawan atau pasangan hidup yangsangatdicintai.d. berbagai kondisi kekurangan yang dihayati sebagai sesuatu cacat yang sangat menentukan seperti penampilan fisik, jenis kelamin, usia, intelegensi dan lain-lain.e. berbagai kondisi perasaan bersalah terutama yang menyakut kode moral etika yang dijunjungtinggitetapigagaldilaksanakan.
Suka tidak suka keadaan diluar diri kita (lingkungan) akan mempengaruhi kondisi diri kita. ketidaknyamanan fisik, seperti suara mesin yang ribut, ventilasi yang kurang, suhu ruangan yang kurang tepat dan sebagainya, semua itu jelas dapat mempengaruhi kondisi psikis individu.


Menurut Braham (dalam Handoyo; 2001:68), gejala stres dapat bcrupatanda-tanda berikut ini:
Fisik, yaitu sulit tidur atau tidur lidak teratur, sakit kepala, sulit buang airbesar, adanya gangguan pencemaan, radang usus, kuiit gatal-gatal, punggungterasa sakit, urat-urat pada bahu dan !eher terasa tegang, keringat berlebihan,berubah selera makan, tekanan darah tinggi atau serangan jantung, kehilanganenergi.
Emosional, yaitu marah-marah, mudah tersinggung dan terlalu sensitif,gelisah dan cemas, suasana hati mudah berubah-ubah, sedih, mudah menangis dandepresi, gugup, agresif terhadap orang lain dan mudah bermusuhan serta mudahmenyerang, dan kelesuan mental.
Intelektual, yaitu mudah lupa, kacau pikirannya, daya ingat menurun, sulituntuk berkonsentrasi, suka melamun berlebihan, pikiran hanya dipenuhi satupikiran saja.
Interpersonal, yailu acuh dan mendiamkan orang lain, kepercayaan padaorang lain menurun, mudah mengingkari janji pada orang lain, senang mencarikesalahan orang lain atau menyerang dengan kata-kata, menutup din secaraberlebihan, dan mudah menyalahkan orang lain.
3 Model Stress
Cox (dalam Prabowo, 1998) mengemukakan tiga model stress yaitu : Respons-based model, Stimulus- based model, dan Interaction model.
a. Response-based model
Stress model ini mengacu sebagai sekelompok gangguan kejiwaan dan respon-respon psikis yang timbul pada situasi sulit.
b. Stimulus-based model
Model stress ini memusatkan perhatian pada sifat-sifat stimuli stress. Tiga karakteristik penting dari stimuli stress adalah sebagai berikut :
(1) Overload
Karakteristik individu ini diukur ketika sebuah stimulus datang secara intens dan individu tidak dapat mengadaptasi lebih lama lagi.
(2) Conflict
Konflik diukur ketika sebuah stimulus secara simultan membangkitkan dua atau lebih respon-respon yang tidak berkesesuaian.
(3) Uncontrollability


Uncontrollalibility adalah peristiwa-peristiwa dari kehidupan yang bebas atau tidak bergantung pada perilaku dimana pada situasi ini menunjukkan tingkat stress yang tinggi.

c. Interactional model
Model ini merupakan perpaduan dari respons-based model dan stimulus-based model. Ini mengingatkan bahwa dua model terdahulu membutuhkan tambahan informasi mengenai motif-motif individual dan kemampuan mengatasi.

Macam-macam Stress
Holahan (1981) menyebutkan jenis stress yang debedakan menjadi dua bagian, yaitu:
- Systemic stress, artinya respon nonspesifik dari tubuh terhadap beberapa tuntutan lingkungan.
- Psychological stress.

Sesuai prinsip Free-Willing dari Victor Emile Frankl, manusia punya kebebasan menentukan respon dari setiap kondisi (stimulus) yang diterimanya. Manusia dengan ‘Kesadaran’-nya dapat memberi jarak antara stimulus dan respon. Jadi, ketika kita berada dalam lingkungan atau kondisi yang tidak nyaman, kita harus bisa menentukan respon positif yang tepat dan bisa dipertanggung jawabkan (Covey, 1989).

Sumber : Prabowo, Hendro. 1998. Arsitektur, Psikologi dan Masyarakat. Depok : Penerbit Gunadarma.
Covey, R Stephen. 1989. 7 Habit For Effective People. USA.
http://www.akuinginsukses.com/17-tips-mengatasi-stress-dalam-hidup-dan-di-tempat-kerja/

Read Users' Comments (0)

Tugas ke-3 Softskill Psikologi Lingkungan



Judul : Hubungan antara Teritorialitas, Ruang Hidup dan Privasi dengan Lingkungan

Diah Septilinawati

10508060

3pa05

Pengertian Teriteriolitas

Teritorialitas adalah suatu tingkah laku yang diasosiasikan pemilikan atau tempat tempat yang ditempatinya atau area yang sering melibatkan ciri pemilikannyadan pertahanan dari serangan orang lain.

Perbedaan Ruang Personal dan Teritorialitas
Ruang personal dibawa kemanapun seseorang pergi, sedangkan teritori memiliki implikasi tertentu yang secara geografis merupakan daerah yang tidak beru

bah – ubah.

Elemen – Elemen Teritorialitas
Ada 4 karakter dari teritorialitas :
1. Kepemilikan atau Hak dari suatu tempat,
2. Personalisasi atau penandaan dari suatu area tertentu,
3. Hak untuk mempertahankan diri dari gangguan luar, dan
4. Pengatur dari beberapa fungsi, mulai dari bertemunya kebutuhan dasar psikologis sampai kepada kepuasan kognitifdan kebutuhan – kebutuhan estetika.

Teritorialitas dibagi menjadi tiga, yaitu : teritorial primer, teritorial sekunder dan teritorial umum
Teritorialitas Primer
Jenis teritori ini dimiliki serta dipergunakan secara khusus bagi pemiliknya. Pelanggaran terhadapteritori utama ini akan menimbulkan perlawanan dari pemiliknyadan ketidakmampuan untuk mempertahankan teritori utama ini akan mengakibatkan masalah serius terhadap psikologis pemiliknya, yaitu dalam hal harga diri dan identitas.

contoh teritorial berdasarkan di kehidupan sehari – hari misalnya :
Ruang kerja
Ruang tidur
Teritori Sekunder
Jenis teritori ini lebih longgar pemakaian dan kontrol perorangannya. Teritorial ini dapat digunakan orang lainyang masih di dalam kelompok ataupun orang yang mempunyai kepentingan kepada kelompok itu. Sifat teritorial sekunde

r adalah semi – publik.
contoh teritorial berdasarkan di kehidupan sehari – hari misalnya :
Kantor

Toilet
Teritorial Umum
Teritorial umum dapat digunakan oleh setiap orang dengan mengikuti aturan – aturan yang lazim di dalam masyarakat dimana teritorial umum itu berada. Teritorial umum dapat dipergunakan secara sementara dalam jangka waktu lama maupun

singkat.
contoh teritorial berdasarkan di kehidupan sehari – hari misalnya :
Ruang kuliah
Bangku Bus

Privasi (Personal Space)

Privasi adalah salah satu konsep dari gejala persepsi manusia terhadap lingkungannya, dimana konsep ini amat dekat dengan konsep ruang personal dan teritorialitas.
Konsep ‘privacy’ dalam arsitektur bisa diartikan sebagai suatu kebutuhan manusia untuk menikmati sebagian dari kehidupan sehari-harinya tanpa ada gangguan baik langsung maupun tidak langsung oleh subjek lain. Hal ini dinyatakan dalam suatu ruang yang tertutup dari jangkauan pandangan maupun fisik dari pihak luar. Jadi jelas ada batasan-batasan fisik untuk mencapainya.

Pengertian Privasi sendiri antara lain adalah :

Privasi adalah kemampuan satu atau sekelompok individu untuk mempertahankan kehidupan dan urusan personalnya dari publik, atau untuk mengontrol arus informasi mengenai diri mereka. (http://id.wikipedia.org/wiki/Privasi)
Privasi merupakan tingkatan interaksi atau keterbukaan yang dikehendaki seseorang pada suatu kondisi atau situasi tertentu. Tingkatan privasi yang diinginkan menyangkut keterbukaan atau ketertutupan , yaitu adanya keinginan untuk berinteraksi dengan orang lain atau justru ingin menghindar atau berusaha supaya sukar di capai orang lain. (Dibyo Hartono, 1986)
Psikologi mengartikan ‘privacy’ sebagai kebebasan pribadi untuk memilih apa yang akan di sampaikan. Dengan perkataan lain, ‘privacy’ dalam psikologi belum tentusampaikan atau dikomunikasikan tentang dirinya sendiri dan kepada siapa akan disampaikan akan tercipta hanya dengan adanya batasan-batasan fisik saja. Psikologipun mengklasifikasikan ‘privacy’ ini menjadi: ‘solitude’ yang berarti kesunyian, ‘intimacy’ atau keintiman, ‘anonymity’ atau tanpa identitas, dan ‘reserve’ yang berarti kesendirian.

Privacy memiliki 2 jenis penggolongan

1. Golongan yang berkeinginan untuk tidak diganggu secara fisik.
a. Keinginan untuk menyendiri (solitude)
Misalnya ketika seseorang sedang dalam keadaan sedih dia tidak ingin di ganggu oleh siapapun.
b. Keinginan untuk menjauhkan dari pandangan atau gangguan suara tetangga / lalu lintas (seclusion)
Misalnya saat seseorang ingin menenangkan pikirannya , ia pergi ke daerah pegunungan untuk menjauhkan diri dari keramaian kota.
c. Keinginan untuk intim dengan orang-orang tertentu saja, tetapi jauh dari semua orang (intimacy)
Misalnya orang yang pergi ke daerah puncak bersama orang-orang terdekat seperti keluarga.

2. Golongan yang berkeinginan untuk menjaga kerahasiaan diri sendiri yang berwujud dalam tingkah laku hanya memberi informasi yang dianggap perlu.
a. Keinginan untuk merahasiakan jati diri (anaonimity)
b. Keinginan untuk tidak mengungkapkn diri terlalu banyak kepada orang lain (reserve)
c. Keinginan untuk tidak terlibat dengan tetangga (not neighboring)

sumber : Dharma, Agus.Teori Arsitektur 3.Jakarta:Gunadarma,1998.

bukan arsitek biasa

Read Users' Comments (0)

Kepadatan dan Kesesakan


Kepadatan

A. Pengertian Kepadatan

Kepadatan atau density ternyata mendapat perhatian yang serius dari para ahli psikologi lingkungan. Menurut Sundstorm, kepadatan adalah sejumlah manusia dalam setiap unit ruangan (dalam Wrightsman &Deaux, 1981). Atau sejumlah individu yang berada di suatu ruang atau wilayah tertentu dan lebih bersifat fisik (Holahan, 1982; Heimstra dan McFarling, 1978; Stokols dalam Schmidt dan Keating, 1978). Suatu keadaan akan dikatakan semakin padat apabila jumlah manusia pada suatu batas ruang tertentu semakin banyak dibandingkan dengan luas ruangannya (Sarwono, 1992).

Kesesakan atau crowding merupakan persepsi individu terhadap keterbatasan ruang, sehingga lebih bersifat psikis (Gilford, 1978; Schmidt dan Keating. 1979; Stokols dalam Holahan, 1982). Kesesakan terjadi bila mekanisme privasi individu gagal berfungsi dengan baik karena individu atau kelompok terlalu banyak berinteraksi dengan yang lain tanpa diinginkan individu tersebut (Altman, 1975).

Menurut Altman (1975), Heimstara dan McFarling (1979) antara kepadatan dan kesesakan memiliki hubungan yang erat karena kepadatan merupakan salah satu syarat yang dapat menimbulkan kesesakan. Kepadatan yang tinggi dapat mengakibatkan kesesakan pada individu (Heimstra dan McFarling, 1978; Holahan, 1982).

B. Kategori Kepadatan

Menurut Altman (1975), variasi indikator kepadatan berhubungan dengan tingkah laku sosial, meliputi:

- jumlah individu dalam sebuah kota

- jumlah individu pada daerah sensus

- jumlah individu pada unit tempat tinggal

- jumlah bangunan pada lingkungan sekitar, dll.

Jain (1987) berpendapat bahwa tingkat kepadatan penduduk dipengaruhi oleh:

- jumlah individu pada setiap ruang

- jumlah ruang pada setiap unit tempat tinggal

- jumlah unit tempat tinggal pada setiap struktur hunian

- dan jumlah struktur hunian pada setiap wilayah pemukiman.

Hal ini berarti bahwa setiap pemukiman memiliki tingkat kepadatan yang berbeda tergantung dari konstribusi unsur-unsur tersebut.

C. Akibat-akibat Kepadatan Tinggi

Taylor (dalam guilford, 1982) mengatakan bahwa lingkungan sekitar dapat merupakan sumber yang penting dalam mempengaruhi sikap, perilaku dan keadaan internal seseorang di suatu tempat tinggal.

Schorr (dalam Ittelson, 1974) mempercayai bahwa macam dan kualitas pemukiman dapat memberikan pengaruh penting terhadap persepsi diri penghuninya, stress dan kesehatan fisik, sehingga kondisi pemukiman ini tampaknya berpengaruh pada perilaku dan sikap-sikap orang yang tinggal disana. Penelitian Valins dan Baum (salam Heimstara dan McFalring, 1978) menunjukkan adanya hubungan erat antara kepadatan dengan interaksi sosial.

Contoh Kasus :

Para mahasiswa yang bertempat tinggal di asrama yang padat sengaja mencari dan memilih tempat duduk yang jauh dari oranglain, tidak berbicara dengan oranglain yang berada di tempat yang sama. Dengan kata lain mahasiswa yang tinggal di tempat padat cenderung untuk menghindari kontak sosial dengan oranglain.

Altman (1975) dan Belt dkk. (1978) menambahkan faktor situasional sebagai faktor yang mempengaruhi kesesakan. Stressor yang menyertai seperti suara gaduh, panas, polusi, sifat lingkungan (lingkungan primer-sekunder), tipe suasana (suasana kerja-rekreasi), dan karakteristik seting (tipe rumah, tingkat kepadatan)

Pengaruh negatif kesesakan, tercermin dalam bentuk penurunan-penurunan psikologis, fisiologis dan hubungan sosial individu. Pengaruh psikologis yang ditimbulkan oleh kesesakan antara lain :

- perasaan kurang nyaman

- stress

- kecemasan

- suasana hati yang kurang baik

- prestasi kerja dan prestasi belajar menurun

- agresivitas meningkat

- dan bahkan juga gangguan mental yang serius

dampak fisiologis yang terjadi adalah :

- meningkatnya tekanan darah dan detak jantung

- gejala-gejala psikosomatik

- penyakit-penyakit fisik yang serius

Perilaku sosial yang seringkali timbul karena situasi yang sesak antara lain adalah :

- kenakalan remaja

- menurunnya sikap gotong-royong dan saling membantu

- penarikan diri dari lingkungan sosial

- berkembangnya sikap acuh tak acuh

- semakin berkurangnya intensitas hubungan sosial

Maka, solusi yang dilakukan untuk mencegah terjadinya dampak negatif dari kesesakan dan kepadatan adalah, sebagai berikut:

  1. Menjaga hubungan interpersonal dengan teman dalam lingkungan tempat tinggal dengan saling menghormati dan menghargai
  2. Tidak menambah formasi koalisi, atau tidak menambah orang dengan jumlah kapasitas suatu tempat tinggal melebihi kapasitas tempat tinggal
  3. Menjaga kualitas hubugan dengan sering bergaul dengan orang lain
  4. Masing-masing individu harus mengetahui informasi tentang kepadatan pada suatu lokasi yang akan menjadi tempat tinggalnya
  5. Memperhatikan faktor fisik seperti tata letak, suasana, dan daerah lokasi tempat tinggal

Read Users' Comments (0)

Perilaku Individu di dalam Lingkungan


Perilaku manusia sangat berbeda antara satu dengan lainnya. Perilaku itu sendiri adalah suatu fungsi dari interaksi antara seseorang individu dengan lingkungannya. Ditilik dari sifatnya, perbedaan perilaku manusia itu disebabkan karena kemampuan, kebutuhan, cara berpikir untuk menentukan pilihan perilaku, pengalaman, dan reaksi affektifnya berbeda satu sama lain.

Pendekatan yang sering dipergunakan untuk memahami perilaku manusia adalah; pendekatan kognitif, reinforcement, dan psikoanalitis. Berikut penjelasan ketiga pendekatan tersebut dilihat dari; penekanannya, penyebab timbulnya perilaku, prosesnya, kepentingan masa lalu di dalam menentukan perilaku, tingkat kesadaran, dan data yang dipergunakan.

1. Penekanan.

Pendekatan kognitif menekankan mental internal seperti berpikir dan menimbang. Penafsiran individu tentang lingkungan dipertimbangkan lebih penting dari lingkungan itu sendiri.

Pendekatan penguatan (reinforcement) menekankan pada peranan lingkungan dalam perilaku manusia. Lingkungan dipandang sebagai suatu sumber stimuli yang dapat menghasilkan dan memperkuat respon perilaku.

Pendekatan psikoanalitis menekankan peranan sistem personalitas di dalam menentukan sesuatu perilaku. Lingkungan dipertimbangkan sepanjang hanya sebagai ego yang berinteraksi dengannya untuk memuaskan keinginan.

2. Penyebab Timbulnya Perilaku

Pendekatan kognitif, perilaku dikatakan timbul dari ketidakseimbangan atau ketidaksesuaian pada struktur kognitif, yang dapat dihasilkan dari persepsi tentang lingkungan.

Pendekatan reinforcement menyatakan bahwa perilaku itu ditentukan oleh stimuli lingkungan baik sebelum terjadinya perilaku maupun sebagai hasil dari perilaku.

Menurut pendekatan psikoanalitis, perilaku itu ditimbulkan oleh tegangan (tensions) yang dihasilkan oleh tidak tercapainya keinginan.

3. Proses.

Pendekatan kognitif menyatakan bahwa kognisi (pengetahuan dan pengalaman) adalah proses mental, yang saling menyempurnakan dengan struktur kognisi yang ada. Dan akibat ketidak sesuaian (inconsistency) dalam struktur menghasilkan perilaku yang dapat mengurangi ketidak sesuaian tersebut.

Pendekatan reinforcement, lingkungan yang beraksi dalam diri individu mengundang respon yang ditentukan oleh sejarah. Sifat dari reaksi lingkungan pada respon tersebut menentukan kecenderungan perilaku masa mendatang.

Dalam pendekatan psikoanalitis, keinginan dan harapan dihasilkan dalam Id kemudian diproses oleh Ego dibawah pengamatan Superego.

4. Kepentingan Masa lalu dalam menentukan Perilaku.

Pendekatan kognitif tidak memperhitungkan masa lalu (ahistoric). Pengalaman masa lalu hanya menentukan pada struktur kognitif, dan perilaku adalah suatu fungsi dari pernyataan masa sekarang dari sistem kognitif seseorang, tanpa memperhatikan proses masuknya dalam sistem.

Teori reinforcement bersifat historic. Suatu respon seseorang pada suatu stimulus tertentu adalah menjadi suatu fungsi dari sejarah lingkungannya.

Menurut pendekatan psikoanalitis, masa lalu seseorang dapat menjadikan suatu penentu yang relatif penting bagi perilakunya. Kekuatan yang relatif dari Id, Ego dan Superego ditentukan oleh interaksi dan pengembangannya dimasa lalu.

5. Tingkat dari Kesadaran.

Dalam pendekatan kognitif memang ada aneka ragam tingkatan kesadaran, tetapi dalam kegiatan mental yang sadar seperti mengetahui, berpikir dan memahami, dipertimbangkan sangat penting.

Dalam teori reinforcement, tidak ada perbedaan antara sadar dan tidak. Biasanya aktifitas mental dipertimbangkan menjadi bentuk lain dari perilaku dan tidak dihubungkan dengan kasus kekuasaan apapun. Aktifitas mental seperti berpikir dan berperasaan dapat saja diikuti dengan perilaku yang terbuka, tetapi bukan berarti bahwa berpikir dan berperasaan dapat menyebabkan terjadinya perilaku terbuka.

Pendekatan psikoanalitis hampir sebagian besar aktifitas mental adalah tidak sadar. Aktifitas tidak sadar dari Id dan Superego secara luas menentukan perilaku.

6. Data.

Dalam pendekatan kognitif, data atas sikap, nilai, pengertian dan pengharapan pada dasarnya dikumpulkan lewat survey dan kuestioner.

Pendekatan reinforcement mengukur stimuli lingkungan dan respon materi atau fisik yang dapat diamati, lewat observasi langsung atau dengan pertolongan sarana teknologi.

Pendekatan psikoanalitis menggunakan data ekspresi dari keinginan, harapan, dan bukti penekanan dan bloking dari keinginan tersebut lewat analisa mimpi, asosiasi bebas, teknik proyektif, dan hipnotis.


sumber: http://matakuliahekonomi.wordpress.com/2010/10/09/perilaku-individu-dalam-organisasi/

Read Users' Comments (0)

Relokasi dan Penanganan Korban Pasca Bencana Merapi


Gundah dan gusarnya Merapi yang sekarang pada posisi status “Awas,” semakin menyedot perhatian beberapa pihak untuk bersegera menyelamatkan masyarakat sekitar dengan beragam kemenarikan potensi SDA dan sosial budayanya. Disadari atau tidak, eksplosif Merapi, (mungkin) bakal menyisakan setumpuk penderitaan bagi masyarakat. Lantas, apa yang telah dan akan kita perbuat untuk meringankan beban ketidakberdayaan dan kenestapaan masyarakat. Pada kondisi darurat dan mendesak demikian, tidak ada salahnya siapa pun berhak untuk berkunjung dan memberi bantuan. Bantuan tidak pernah mengenal dan memedulikan “warna”. Namun mekanisme bantuan dan kontrol harus terjaga, jangan sampai birokrasi justru menghambat program pembangunan (Ginanjar Kartasasmita, 1995). Problema paling mendasar adalah persoalan fisik, seperti pemenuhan kebutuhan makan minum, tempat tinggal, kesehatan, pendidikan yang tidak memadai, tidak tersedia atau terbatasnya fasilitas umum maupun fasilitas sosial dan sanitasi lingkungan yang buruk sehingga menimbulkan ketidaknyamanan bahkan bibit penyakit.

Keterpurukan lain yang dihadapi yakni, masalah psikososial, seperti kekhawatiran akan terjadinya ledakan susulan, rasa sedih dan kehilangan yang mendalam apabila ada anggota keluarganya yang meninggal, halusinasi mengenai kejadian bencana baru yang akan menimpa mereka di tempat pengungsian, stress (ringan, sedang, berat), frustasi dan trauma serta kecewa dan putus asa dengan situasi dan kondisi kehidupan yang mereka alami di pengungsian. Hal yang memperparah kondisi para pengungsi, mereka mudah tersulut api konflik dengan sesama pengungsi akibat jenuh (burnout) karena sebagian besar korban bermatapencaharian sebagai petani dan yang terjadi di tempat pengungsian mereka hanya diam saja maka hal itulah yang membuat mereka bosan, kemudian tidak terpenuhinya kebutuhan hidup, tidak optimalnya pelaksanaan fungsi dan peran keluarga dan kemungkinan-kemungkinan hilangnya pengendalian diri, kekecewaan terhadap pelayanan yang diberikan oleh Pemerintah yang berpotensi menjadi aksi sosial. Pengungsi pun terjangkit hilangnya harga diri dan rasa percaya diri, pasrah, putus asa, merasa tidak berdaya dan ketidakpastian terhadap masa depan, menyalahkan orang/pihak lain yang dianggap menambah beban hidup mereka, ketergantungan terhadap bantuan dari Pemerintah dan pihak-pihak lainnya, dan menyalahkan Tuhan serta menolak direlokasi ke tempat baru, jika tempat asalnya tidak memungkinkan lagi dihuni.

Langkah pertama yang layak dilakukan,

pertama, advokasi. Melindungi dan mengupayakan kepastian mengenai pemenuhan kebutuhan dasar pengungsi secara layak dan memadai.

Kedua, intervensi keluarga. Keluarga-keluarga pengungsi yang kehilangan kepala keluarganya perlu mendapatkan pelayanan khusus karena (barangkali) seorang istri atau ibu harus mengambil alih tanggung jawab sebagai kepala keluarga sekaligus pencari nafkah. Pengertian, dukungan dan partisipasi semua anggota keluarga sangat dibutuhkan agar masa transisi peran tersebut dapat dilaksanakan dengan baik agar fungsi keluarga dapat pulih kembali dan stabilitasasi peran keluarga dapat dicapai.

Ketiga, terapi krisis. Dalam konteks ini, tidak sedikit masyarakat yang menolak untuk direlokasi, tidak puas dan merasa tidak berdaya dengan situasi dan kondisi yang baru yang berbeda dengan keseharian mereka sebelumnya. Perasaan-perasaan tersebut seringkali menimbulkan gangguan psikis, seperti kecemasan dan insomnia, stress, frustasi dan selalu ada kemungkinan timbul aksi sosial atau konflik. Layanan ini diberikan kepada individu-individu yang mengalami stress atau trauma karena kejadian bencana itu sendiri, karena kehilangan harta bendanya atau karena kehilangan anggota keluarganya.

Untuk kasus seperti ini maka perlu membentuk kelompok-kelompok khusus untuk mendapatkan terapi. Terapi yang dilakukan antara lain : pengungkapan perasaan-perasaan negatif yang dilanjutkan dengan pembelajaran sederhana mengenai cara membangun perasaan-perasaan yang positif dan bekerja bersama-sama dengan kelompok untuk menginventarisasi hal-hal positif yang dapat dilakukan di daerah yang baru dan menyusun rencana kegiatannya.

Keempat, membangun partisipasi. Pengungsi perlu dilibatkan dalam berbagai kegiatan di barak-barak pengungsian (dapur umum, latihan keterampilan dan kegiatan lain) untuk mengalihkan perasaan-perasaan kontra produktif, dan menyusun rencana recovery bersama dengan pengungsi.

Terakhir, mediasi dan fasilitasi relokasi dengan penyuluhan terhadap masyarakat di daerah tujuan yang baru agar dapat menerima kehadiran para pengungsi yang direlokasi ke daerah mereka.

Pada titik inilah, pemberdayaan pengungsi akan lebih optimal dan terus bermetamorfosa sebagai payung yang mampu memberi rasa aman, nyaman dan menjadi tempat pertama bagi pengungsi untuk mencari perlindungan. Hal itu merupakan wahana efektif dan strategis sebagai wahana konseling secara psikologis, moral dan hukum terhadap korban. Inilah sebenarnya transformasi sosial secara konkret pada tataran akar rumput.

*(Marjono – Bapermades Prov. Jateng)

Sumber: http://www.jatengprov.go.id/?mid=wartadaera&listStyle=gallery&category=4254&document_srl=11905

Tindakan Kita Sebagai Mahasiwa Psikologi untuk Korban Pasca Bencana Gunung Merapi.

Bencana Merapi yang terjadi pada Oktober lalu sungguh membuat pilu terutama untuk para korban yang kehilangan keluarganya, harta bendanya, bahkan mungkin anggota tubuhnya. Bantuan terus berdatangan dari berbagai pihak berupa materi. Memang pada kondisi pasca bencana seperti ini yang Pertama dibutuhkan adalah bantuan materi untuk melanjutkan hidup para korban yang selamat. Namun sebenarnya ada lagi yang paling penting selain bantuan berupa materi, karena sesungguhnya tidak hanya kehilangan harta benda saja yang mereka rasakan, tetapi perasaan sedih akibat kehilangan keluarga yang mereka sayangi secara tiba-tiba juga berdampak buruk bagi mental dan psikologis mereka. Untuk itu sebagai mahasiswa Psikologi yang memiliki rasa empatik jika kami menjadi relawan dalam penanganan korban pasca bencana Merapi adalah yang pertama pasti bantuan materi dengan mengumpulkan pakaian bekas layak pakai, makanan dan kebutuhan lainnya, menggalang dana.

Kegiatan psikologis yang akan kami lakukan seperti menghilangkan trauma para korban dengan menghibur korban, pelatihan dan pembinaan keluarga.

Terlebih dahulu kami akan terfokus kepada anak – anak, karena mereka pasti belum tau bagaimana caranya mengontrol emosi mereka dan mungkin anak-anak belum tahu apa yang sebenarnya terjadi. Dengan tujuan untuk menghilangkan kebosanan pada anak – anak selama dipengungsian, maka kami akan mengadakan games – games ringan. Seperti menggambar, mewarnai, dan permainan kelompok. khususnya anak-anak dengan cara memberikan sebuah permaianan bagi anak-anak. Juga kami mendengarkan cerita dari anak – anak, mengajak mereka membuat barang kerajinan, dan hal tersebut merupakan upaya untuk meluapkan ekspresi serta membuang energi negatif anak. Tidak hanya itu, untuk bapak-bapak, ibu-ibu, atau orang tua yang sebagian besar matapencahariannya adalah sebagai petani/peternak pasti mereka merasakan kebosanan di lokasi pengungsian karena rutinitas mereka sudah tidak dapat lagi dilakukan, maka kami mencoba untuk member hiburan, walaupun hiburan hanya sementara sifatnya paling tidak ia dapat merasakan tertawa dan melupakan sejenak beban mental mereka. Lebih lanjut lagi, dengan ilmu psikologi yang kami miliki, maka kami akan memberikan konseling ringan untuk mereka yang mengalami stress atau depresi.

Kita juga akan memberikan penyuluhan terhadap korban merapi tentang relokasi (tempat tinggal sementara untuk para korban bencana) agar mereka dapat menerima dimana mereka akan diberi tempat tinggal yang baru. Dan dengan mudah untuk beradaptasi di tempat atau lingkungan yang baru.

TUGAS PSIKOLOGI KELOMPOK

AYUDYA RINDANI (10508033)

DIAH SEPTILINAWATI (10508060)

NURBIANTI (10508163)

STEVEN XAVERIUS

Read Users' Comments (0)