Pandangan Humanistik tentang Diri&Kepribadian Sehat Allport dan Roger


Gordon Allport (1897-1967)

1. Pendapat Alport dalam membahas Manusia
Teori-teori Allport telah memberi definisi manusia yang dipandang secara positif. Teorinya memberi suatu makna bagi orang yang mempelajarinya yaitu tentang sebuah pendangan yang baik dengan demikian teori Allport itu telah membantu manusia untuk melihat diri sendiri sebagai mahkluk yang baik dan penuha harapan. Hal tersebut nampak dari teorinya yang menyatakan bahwa ”gambaran kodrat manusia adalah positif, penuh harapan dan menyanjung-nyanjung”. Maka manusia diarahkan untuk menerima dirinya sebagai pribadi yang positif. Ini menjadi kekuatan dan kelebihan dari teori Allport karena secara umum memandang diri secara positif dan apa adanya merupakan salah satu definisi pribadi yang sehat.

“DIRI” DARI ORANG YANG SEHAT
Dalam pembicaraan tentang kepribadian yang sehat, konsep “diri” (self) merupakan satu bagian yang amat sangat penting.Dalam penjelasan teori Allport mengenalkan istilah.

2. Proprium
Istilah proprium dapat didefinisikan dengan memikirkan bentuk sifat “propriate” seperti dalam kata “appropriate”. Proprium menunjukkan sesuatu yang dimilki seseorang atau unik bagi seseorang. Itu berarti bahwa proprium (self) terdiri dari hal-hal atau proses-proses yang penting dan bersifat pribadi bagi seorang individu, segi-segi yang menentukan seseorang sebagai diri yang unik. Allport menyebutnya “saya sebagaimana dirasakan dan diketahui”. Intilah inilah yang kemudian membedakan konsep Allport dengan konsep-konsep lainnya.
Proprium ini berkembang dari masa bayi sampai masa adolesens melalui tujuh tingkat “diri”. Apabila semua perkembangan telah muncul sepenuhnya, maka segi-segi tersebut dipersatukan dalam satu konsep yaitu proprium. Jadi proprium adalah susunan dari tujuh tingkat “diri”. Dan munculnya proprium merupakan satu persyaratan untuk suatu kepribadian yang sehat.
Ketujuh tingkatan proprium tersebut antara lain :
1.Proprium diri jasmaniah. Terjadi secara berangsur-angsur, dengan makin bertambah kompleksnya belajar dan pengalaman-pengalaman perceptual, maka berkembanglah suatu perbedaan yang kabur antara sesuatu yang ada “dalam saya” dan hal-hal lain ‘diluar lainnya’. Ketika bayi menyentuh, melihat, mendengar dirinya, orang-orang disekitarnya dan benda-benda, perbedaan ini menjadi jelas. Kira-kira pada usia 15 bulan munculnya tingkat pertama perkembangan proprium. Kesadaran akan “saya jasmaniah” tersebut Allport menyebutnya “jangkar abadi untuk kesadaran diri kita”.
2.Identitas diri. Pada tingkatan kedua ini seseorang mulai sadar akan identitasnya yang berlangsung terus sebagai seorang yang terpisah. Allport berpendapat bahwa segi yang sangat penting dalam identitas diri adalah nama orang. Nama itu menjadi lambang dari kehidupan seseorang yang mengenal dirinya dan membedakannya dari semua diri yang lain di dunia.
3.Harga diri. Merupakan tingkat ketiga dari perkembangan proprium, yang menyangkut perasaan bangga dari diri anak sebagai suatu hasil dari belajar mengerjakan benda-benda atas usahanya sendiri. Allport percaya bahwa hal ini merupakan suatu tingkat perkembangan yang menentukan; apabila orang tua menghalangi kebutuhan anak untuk menyelidiki maka perasaan harga diri yang timbul dapat dirusakkan. Akibat timbul dari peraaan dihina dan marah. Inti munculnya harga diri ialah kebutuhan akan otonomi.
4.Perluasan diri (self extention). Pada tingkatan ini anak mulai mempelajari arti dan nilai dari milik seperti terungkap dalam kata yang bagus sekali “kepunyaanku”. Dan ini adalah permulaan dari kemampuan orang untuk memperpanjang dan memperluas dirinya, untuk memasukkan tidak hanya benda-benda tetapi juga abstraksi-abstraksi, nilai-nilai dan kepercayaan-kepercayaan.
5.Gambaran diri. Berkembang pada tingkat selanjutnya. Hal ini menunjukkan bagaimana seseorang melihat dirinya dan pendapatnya tentang dirinya.
6.Diri sebagai pelaku rasional. Pada tingkatan ini aturan-aturan dan harapan-harapan baru dipelajari dari guru dan teman-teman sekolah serta hal yang lebih penting ialah diberikannya aktivitas-aktivitas dan tantangan-tantangan intelektual. Anak belajar dapat memecahkan masalah dengan mengunakan proses-proses yang logis dan rasional.
7.Perjuangan proprium (propriate striving). Tingkat ini merupaka tingkat terakhir dalam perkembangan diri – timbul. Allport percaya bahwa masa adolesensi merupakan suatu masa yang sangat menentukan. Segi yang sangat penting dari pencarian identitas adalah definisi suatu tujuan hidup.

3. KRITERIA KEPRIBADIAN YANG MATANG
Dalam diri individu yang matang kita menemukan seorang pribadi yang tingkah lakunya ditentukan oleh sekumpulan sifat yang terorganisasi dan harmonis. Penentu utama tingkah laku dewasa yang masak adalah seperangkat sifat yang terorganisir dan seimbang yang mengawali dan membimbing tingkah laku sesuai dengan psinsip otonomi fungsional.
Tidak semua orang dewasa mencapai kematangan penuh. Ada individu-individu yang sudah dewsa namun motivasi-motivasinya masih bersifat kekanak-kanakan. Rupanya tidak semua orang dewasa bertingkah laku mengikuti prinsip-prinsip yang jelas dan rasional. Akan tetapi sejauh mana mereka menghindari motivasi-motivasi yang tidak disadari dan sejauh mana sifat-sifat mereka tidak lagi berhubungan dengan sumber-sumber yang berasal dari masa kanak-kanak memang bisa dijadikan ukuran normalitas dan kematangan mereka. Hanya dalam diri individu yang sangat tergantung kita menemukan orang dewasa yang bertingkah laku tanpa menyadari apa sebabnya ia bertingkah laku demikian, yang tingkah lakunya lebih erat berhubungan dengan peristiwa-peristiwa yang terjadi pada masa kanak-kanak daripada dengan peristiwa-peristiwa yang terjadi kini atau pada masa yang akan datang.
Adapun ciri-ciri atau kriteria dari kerpibadian yang matang menurut Allport yaitu :
1.Perluasan diri (extension of the self). Artinya hidupnya tidak boleh terikat secara sempit pada sekumpulan aktifitas yang erat hubungannya dengan kebutuhan-kebutuhan dan kewajiban-kewajiban pokoknya. Harus dapat mengambil bagian dan menikmati macam-macam aktivitas yang berbeda-beda. Salah satu aspek dari perluasan diri adalah proyeksi ke masa depan, yakni merencanakan dan mengharapkan.
2.Kemampuan menjalin hubungan yang hangat dengan orang lain (Warm relating of self to other), baik dalam bentuk hubungan yang mendalam maupun tidak mendalam, memiliki dasar rasa aman dan menerima dirinya sendiri.
3.Memiliki orientasi yang realistik (Self Objectification). Dua komponen utama dari Self Objectification adalah humor dan insight. Insight disini adalah kapasitas individu untuk memahami dirinya sendiri, meskipun tidak jelasbagaimana menemukan suatu standar yang cocok untuk membandingkan kepercayaan-kepercayaan individu yang bersangkutan. Perasaan humor tidak hanya menunjukkan kapasitas untuk menemukan kesenangan dan gelak tawa dalam hal sehari-hari, tetapi juga kemampuan untuk membina hubungan-hubungan positif dengan diri sendiri dan dengan objek-objek yang dicintai, serta menyadari adanya ketidakselarasan dalam hal ini.
4.Filsafat hidup (Philosophy of life). Walaupun individu itu harus dapat obyektif dan bahkan menikmati kejadian-kejadian dalam hidupnya, namun mestilah ada latar belkang yang mendasari segala sesuatu yang dikerjakannya, yang memberinya arti dan tujuan. Religi merupakan salah satu hal yang penting dalam hal ini.
5.Kemempuan menghindari reaksi berlebihan terhadap masalah (Emotional security). Masalah disini adalah masalah yang menyinggung drives spesifik (misalnya, menerima dorongan seks, memuaskan sebaik mungkin, tidak menghalangi tetapi juga tidak membiarkan bebas) dan mentoleransi frustasi, perasaan seimbang.
6.Realistic perceptions, skill, assignments, kemampuan memandang orang, obyek dan situasi seperti apa adanya, kemampuan dan minat memecahkan masalah , memiliki keterampilan yang cukup untuk menyelesaikan tugas yang dipilihnya, dapat memenuhi kebutuhan ekonomi kehidupan tanpa rasa panic, rendah diri, atau tingkah laku destruksi diri lainnya.

Rogers terkenal sebagai seorang tokoh psikologi humanis, aliran fenomenologis-eksistensial, psikolog klinis dan terapis, ide - ide dan konsep teorinya banyak didapatkan dalam pengalaman -pengalaman terapeutiknya.

Ide pokok dari teori - teori Rogers yaitu individu memiliki kemampuan dalam diri sendiri untuk mengerti diri, menentukan hidup, dan menangani masalah - masalah psikisnya asalkan konselor menciptakan kondisi yang dapat mempermudah perkembangan individu untuk aktualisasi diri.

4. Perkembangan Kepribadian/self menurut Rogers :

Menurut Rogers motivasi orang yang sehat adalah aktualisasi diri. Jadi manusia yang sadar dan rasional tidak lagi dikontrol oleh peristiwa kanak - kanak seperti yang diajukan oleh aliran freudian, misalnya toilet trainning, penyapihan ataupun pengalaman seksual sebelumnya.

Rogers lebih melihat pada masa sekarang, dia berpendapat bahwa masa lampau memang akan mempengaruhi cara bagaimana seseorang memandang masa sekarang yang akan mempengaruhi juga kepribadiannya. Namun ia tetap berfokus pada apa yang terjadi sekarang bukan apa yang terjadi pada waktu itu.

Aktualisasi diri adalah proses menjadi diri sendiri dan mengembangkan sifat-sifat dan potensi -potensi psikologis yang unik. Aktualisasi diri akan dibantu atau dihalangi oleh pengalaman dan oleh belajar khususnya dalam masa kanak - kanak. Aktualisasi diri akan berubah sejalan dengan perkembangan hidup seseorang. Ketika mencapai usia tertentu (adolensi) seseorang akan mengalami pergeseran aktualisasi diri dari fisiologis ke psikologis.

Rogers dikenal juga sebagai seorang fenomenologis, karena ia sangat menekankan pada realitas yang berarti bagi individu. Realitas tiap orang akan berbeda - beda tergantung pada pengalaman - pengalaman perseptualnya. Lapangan pengalaman ini disebut dengan fenomenal field. Rogers menerima istilah self sebagai fakta dari lapangan fenomenal tersebut.

Konsep diri menurut Rogers adalah kesadaran batin yang tetap, mengenai pengalaman yang berhubungan dengan aku dan membedakan aku dari yang bukan aku. Konsep diri ini terbagi menjadi 2 yaitu konsep diri real dan konsep diri ideal. Untuk menunjukkan apakah kedua konsep diri tersebut sesuai atau tidak, Rogers mengenalkan 2 konsep lagi, yaitu Incongruence dan Congruence. Incongruence adalah ketidakcocokan antara self yang dirasakan dalam pengalaman aktual disertai pertentangan dan kekacauan batin. Sedangkan Congruence berarti situasi di mana pengalaman diri diungkapkan dengan seksama dalam sebuah konsep diri yang utuh, integral, dan sejati.

5. Setiap manusia memiliki kebutuhan dasar akan kehangatan, penghargaan, penerimaan, pengagungan, dan cinta dari orang lain. Kebutuhan ini disebut need for positive regard, yang terbagi lagi menjadi 2 yaitu conditional positive regard (bersyarat) dan unconditional positive regard (tak bersyarat).

Rogers menggambarkan pribadi yang berfungsi sepenuhnya adalah pribadi yang mengalami penghargaan positip tanpa syarat. Ini berarti dia dihargai, dicintai karena nilai adanya diri sendiri sebagai person sehingga ia tidak bersifat defensif namun cenderung untuk menerima diri dengan penuh kepercayaan.

6. Lima sifat khas orang yang berfungsi sepenuhnya (fully human being):

1. Keterbukaan pada pengalaman
Orang yang berfungsi sepenuhnya adalah orang yang menerima semua pengalaman dengan fleksibel sehingga selalu timbul persepsi baru. Dengan demikian ia akan mengalami banyak emosi (emosional) baik yang positip maupun negatip.

2. Kehidupan Eksistensial
Kualitas dari kehidupan eksistensial dimana orang terbuka terhadap pengalamannya sehingga ia selalu menemukan sesuatu yang baru, dan selalu berubah dan cenderung menyesuaikan diri sebagai respons atas pengalaman selanjutnya.

3. Kepercayaan terhadap organisme orang sendiri
Pengalaman akan menjadi hidup ketika seseorang membuka diri terhadap pengalaman itu sendiri. Dengan begitu ia akan bertingkah laku menurut apa yang dirasanya benar (timbul seketika dan intuitif) sehingga ia dapat mempertimbangkan setiap segi dari suatu situasi dengan sangat baik.

4. Perasaan Bebas
Orang yang sehat secara psikologis dapat membuat suatu pilihan tanpa adanya paksaan - paksaan atau rintangan - rintangan antara alternatif pikiran dan tindakan. Orang yang bebas memiliki suatu perasaan berkuasa secara pribadi mengenai kehidupan dan percaya bahwa masa depan tergantung pada dirinya sendiri, tidak pada peristiwa di masa lampau sehingga ia dapat meilhat sangat banyak pilihan dalam kehidupannya dan merasa mampu melakukan apa saja yang ingin dilakukannya.

5. Kreativitas
Keterbukaan diri terhadap pengalaman dan kepercayaan kepada organisme mereka sendiri akan mendorong seseorang untuk memiliki kreativitas dengan ciri - ciri bertingkah laku spontan, tidak defensif, berubah, bertumbuh, dan berkembang sebagai respons atas stimulus-stimulus kehidupan yang beraneka ragam di sekitarnya.

Kelemahan atau kekurangan pandangan Rogers terletak pada perhatiannya yang semata - mata melihat kehidupan diri sendiri dan bukan pada bantuan untuk pertumbuhan serta perkembangan orang lain. Rogers berpandangan bahwa orang yang berfungsi sepenuhnya tampaknya merupakan pusat dari dunia, bukan seorang partisipan yang berinteraksi dan bertanggung jawab di dalamnya.

Selain itu gagasan bahwa seseorang harus dapat memberikan respons secara realistis terhadap dunia sekitarnya masih sangat sulit diterima. Semua orang tidak bisa melepaskan subyektivitas dalam memandang dunia karena kita sendiri tidak tahu dunia itu secara obyektif.

Rogers juga mengabaikan aspek - aspek tidak sadar dalam tingkah laku manusia karena ia lebih melihat pada pengalaman masa sekarang dan masa depan, bukannya pada masa lampau yang biasanya penuh dengan pengalaman traumatik yang menyebabkan seseorang mengalami suatu penyakit psikologis.

Teori Rogers ini memang sangat populer dengan masyarakat Amerika yang memiliki karakteristik optimistik dan independen karena Rogers memandang bahwa pada dasarnya manusia itu baik, konstruktif dan akan selalu memiliki orientasi ke depan yang positip. Pertanyaannya yaitu : Apakah teori ini juga akan sama efektifnya jika diaplikasikan pada masyarakat dengan budaya, dan struktur sosial serta sistem kemasyarakatan yang berbeda dengan Amerika?

Sumber :
http://3ld1d0.multiply.com/journal
Schultz, Duane. 1991. Psikologi Pertumbuhan Model-Model Kepribadian Sehat.Yogyakarta: Kanisius. Hal:17.

teoripembelajaran.teknodik.net/?paged=5

Read Users' Comments (0)

Apakah Gen Cerdas Orangtua Menurun pada Anak??

Secara umum ada dua faktor penentu kecerdasan anak: faktor lingkungan dan genetik. Mengenai faktor genetik atau gen cerdas, itu sebenarnya sama dengan ‘bakat’ yang dimiliki anak, atau bisa juga dibilang ‘potensi kecerdasan’ yang diturunkan orangtua. Dalam hal ini, tak semua gen cerdas orangtua akan menurun pada setiap anak. Misalnya, jika anak pertama tak mewarisi gen cerdas orangtuanya, kemungkin anak berikutnyalah yang mewarisinya.
Mendeteksi ada-tidaknya gen cerdas pada anak itu mudah, tidak perlu sampai mendeteksi kromosom (tempat bersemayamnya gen-gen — Red.) segala. Sejak dini (usia anak 3 bulan), kita sudah bisa mendeteksi bakatnya. Caranya, pantau terus perkembangannya. Jika kita membunyikan bel dan anak bisa mengikuti (menemukan) arah datangnya suara bel (dengan menolehkan kepala — Red.), berarti ia cukup cerdas dan perkembangan motoriknya baik.
Kita juga bisa memprediksi cerdas-tidaknya bayi lewat berbagai hal. Misalnya, dari berat lahirnya, ada-tidaknya kelainan (yang diketahui lewat USG), ada-tidaknya problem kelahiran, normal-tidaknya ukuran lingkar kepalanya, aktif-tidak gerakannya, langsung menangis atau tidak saat lahir, ada-tidaknya gangguan lain, dsb. Semua itu bisa jadi petunjuk apakah perkembangan otak bayi baik atau tidak. Kenapa otak? Karena kecerdasan tersangkut dengan otak. Jika semuanya positif, kemungkinan besar si bayi adalah anak yang cerdas.

Kita juga bisa mengamati perkembangan kemampuan anak di bulan-bulan sesudahnya. Misalnya, sudah bisa apa saja anak di usia 2 tahun? Bagaiman respons anak? Apakah ia banyak bertanya? dsb. Untuk itu, orangtua juga bisa berpatokan pada Kartu Menuju Sehat (KMS). Nantinya, semakin besar anak, semakin banyak parameter yang bisa kita nilai.
Punya gen cerdas bukanlah satu-satunya jaminan bahwa seorang anak akan tumbuh menjadi anak cerdas selamanya. Karena, kecerdasan dapat berubah (bahkan sampai dewasa) tergantung positif-negatifnya pengaruh lingkungan. Misalnya, anak cerdas yang menjumpai problem di sekolah bisa saja menjadi malas sehingga kecerdasannya pun berkurang.

Sebaliknya, anak tidak cerdas yang didukung sedemikian rupa oleh lingkungannya tak mustahil akan tumbuh menjadi anak yang cerdas. Jadi, orangtua yang merasa ‘biasa-biasa saja’ kecerdasaannya tak perlu kecil hati, karena kecerdasan anak masih bisa dibentuk.Hanya saja, adakalanya faktor gen maupun lingkungan tak bisa berperan terlalu banyak. Contohnya pada anak dengan kelainan gen — semisal kromosomnya jelek (berpenyakit) — yang menyebabkan anak menjadi cacat perkembangan. Di sini, peran faktor lingkungan menjadi sangat kecil. Contoh lainnya adalah anak yang tak punya bakat cerdas dan lingkungannya pun biasa-biasa saja, namun ternyata ia tumbuh menjadi anak yang cerdas.Dr. Dwi P. Widodo, Sp.A.(K), M.Med. Dokter Spesialis Anak Konsultan, Sub Bagian Neurologi Anak RSUPN Cipto Mangunkusumo, Jakarta

Memiliki 95 Persen Gen Cerdas Saja Belum Cukup…
Yang menjadi penentu kecerdasan anak itu banyak. Selain faktor genetik (nature) dan faktor lingkungan (nurture) — yakni masalah gizi dan stimulasi pendidikan — ada juga hal-hal tak terduga yang turut mempengaruhi. Katakanlah terjadi kecelakaan (gegar otak) atau gangguan kesehatan pada anak (cerebral palsy, autis, dll). Anak yang punya keturunan pintar pun akan tergangu otaknya. Jadi sekali lagi, semua faktor berpengaruh. Tak ada yang utama, semua setara.

Memang, anak yang memiliki orangtua cerdas bisa dibilang membawa 95 persen gen cerdas. Tapi untuk mewujudkan itu tergantung banyak hal. Jika selama hamil ibunya kurang mengkonsumsi asupan gizi yang baik, mengkonsumsi obat-obatan atau minuman keras, maka kecerdasan dan tumbuh kembangnya akan terganggu. Jadi, cerdas-tidaknya anak sebenarnya akan terlihat dari hasil akhirnya.

Kecerdasan mulai bisa dipantau saat anak berusia 2 tahun. Yaitu ketika sudah mulai bisa bicara, atau saraf motoriknya sudah berfungsi dengan baik (misalnya, anak sudah bisa menyusun balok dengan benar). Cara mendeteksi kecerdasan yang paling mudah dan murah adalah membandingkan tingkat perkembangan anak dengan anak lain. Apakah ia berada di atas rata-rata, di bawah rata-rata atau setara? Contoh, anak usia 2 tahun biasanya sudah dapat mengucapkan 500-1.000 kata. Maka bila si kecil mampu mengucapkan lebih dari 1.000 kata, berarti ia termasuk cerdas.

Ciri-ciri anak cerdas adalah mudah menangkap ‘pelajaran’ (segala sesuatu yang diajarkan kepadanya). Misalnya, saat melihat kereta lewat kita menerangkan mengapa palang penutup jalan turun. Jika ia mampu menangkap, berarti ia termasuk anak cerdas. Ciri lainnya adalah punya ingatan baik, perbendarahan kata luas, berpikir kritis, punya daya konsentrasi yang baik, menguasai banyak bahan tentang berbagai macam topik, senang dan sering membaca, pengamatannya cermat (misalnya jika melihat sesuatu langsung bertanya), punya ungkapan diri yang lancar dan jelas, senang mempelajari kamus, peta dan ensiklopedi, serta cepat memecahkan masalah. Jika kita ingin lebih pasti, sebaiknya dilakukan uji kecerdasaan oleh psikolog lewat tes IQ. Ini sudah bisa dilakukan ketika anak berusia 2 tahun.
Bila setelah dideteksi anak termasuk kategori cerdas, tugas orangtua adalah mengupayakan agar kecerdasannya itu berlanjut. Caranya, teruslah memberi rangsangan pendidikan sesuai usianya. Usahakan aspek tumbuh kembang lainnya juga dalam kondisi baik. Anak cerdas yang sering terganggu fisiknya (sakit), lama-kelamaan akan terganggu aspek kecerdasannya. Aspek emosional juga perlu dikembangkan agar anak cerdas punya rasa percaya diri. Aspek sosial pun penting, agar anak cerdas bisa bersosialisasi dengan temannya, dsb.

Jika kita merasa ‘tidak punya gen cerdas’ atau belum menemukan tanda-tanda ‘adanya gen cerdas’ pada anak, jangan putus asa. Ingat, cerdas-tidaknya anak juga tergantung rangsangan pendidikan dan gizi yang baik. Anak cerdas tapi kurang mendapat rangsangan pendidikan serta gizi yang baik, potensi kecerdasannya otomatis akan menurun.
Jadi, orangtua harus tetap punya harapan positif terhadap anak. Bermodal harapan itu, rangsanglah kecerdasan si kecil sejak dini. Salah satu caranya, rangsanglah rasa ingin tahunya. Misalnya, kenalkan pada lingkungan sekitar, buku, musik, olahraga dan mainan edukatif. Yakinlah, setiap anak mempunyai potensi kecerdasannya masing-masing.



Sumber: Tabloid Ibu Anak

Read Users' Comments (1)komentar

Perbedaan Teori Kepribadian yang Sehat Menurut Para Ahli

I. Teori Kepribadian Sehat menurut Psikoanalisa
I.1 Aliran Sigmund Freud

Aliran ini melihat hanya dari sisi negatif individu, alam bawah sadar (id,ego,superego), mimpi, masa lalu.
· Aliran ini terbatas karena mengabaikan sisi potensi yang dimiliki individu.
· Melihat dari sisi sakit sebagai kodrat manusia yang negatif (neurotis, psikotis).

· Memberikan gambaran pesimistis tentang kodrat manusia, dalam hal ini manusia adalah korban dari tekanan-tekanan biologis dan konflik masa kanak-kanak.
· Manusia dipandang pincang karena dalam hal ini hanya sisi negatif saja yang di soroti.


II. Aliran Behaviouristik (tokoh: J.B.Watson)

· Aliran ini memandang manusia seperti layaknya mesin, maksudnya :manusia sebagai suatu sistem kompleks yang bertingkah laku menurut cara dan aturan sesuai hukum.

Ciri-cirinya adalah :
Tersusun baik, teratur, dan ditentukan sebelumnya, dengan banyak spontanitas, kegembiraan hidup, dan kreatifitas
· Behaviouristik memanggap manusia tidak memiliki sikap diri sendiri.
· Jadi individu adalah manusia biasa yang memberikan respon positif terhadap stimulus dari luar/lingkungan.



III. Aliran Humanistik (tokoh: Abraham Maslow, Rogers, Carl Jung)
· Aliran ini memandang bahwa, setiap manusia mempunyai kemampuan untuk menjadi lebih baik.

· Aliran ini bersifat optimistic, berharap individu menjadi lebih baik .
· Memiliki pandangan yang segar tentang manusia.

· Melihat potensi individu untuk tumbuh, berkeinginan untuk jadi lebih baik.
· Lebih dari apa yang ada di dalam diri individu itu sendiri.

· Percaya kepada kodrat individu yang dapat mnegatasi kejadian buruk masa lalunya.


Kritikan Aliran Humanistik Terhadap Teori Psikoanalisa dan Behaviourisme

Sebenarnya individu dapat mengatasi masalampau (psikoanalisis), dan secara kodrat biologisnya.
Maka individu harus tumbuh dan berkembang melampaui kekuatan-kekuatan negatif yang secara potensial dapat menghambat aktualisasi diri.
Individu seharusnya penuh harapan, karena humanistik percaya akan kapasitas individu untuk memperluas, memperkaya, mengembangkan diri, memenuhi diri seseorang untuk menjadi yang orang tersebut inginkan.

Read Users' Comments (0)

Penderita Gangguan Jiwa Permanen yang Terlantar

Laporan Observasi

Nama : Diah Septilinawati
Npm. : 10508060
Judul : Penderita Gangguan Jiwa Permanen yang Terlantar
Objek : E.P.
Jenis Kelamin : Laki-laki
Usia : 48 tahun
Lokasi Pengamatan : Jl. Setiobomo Dirgantara 2 Halim Perdana Kusuma RT.01/02
Waktu pengamatan : 4 Oktober 2009
Metode Pengamatan : Observasi langsung & Wawancara dengan narasumber
Narasumber : Ibu S.G.


E.P. (48tahun) seorang laki-laki, anak pertama dari 4 bersaudara. Ayahnya, Bapak S.G. bekerja sebagai PNS AURI, mereka tinggal di komplek AURI Dirgantara 2. Riwayat kesehatan keluarga Bapak S.G tidak ada yang pernah menderita gangguan kejiwaan, ataupun sejenisnya. Suatu ketika saat E.P. masih duduk di bangku STM Bapak S.G. meninggal dunia.
Pada tahun 1980 E.P. seorang lulusan STM bekerja di PT ASTRA. Setelah beberapa lama ia bekerja ia menikah, kemudian dikaruniai dua orang anak laki-laki. Pada tahun 1985 saat ia hendak berangkat bekerja di perjalanan ia mengalami kecelakaan yang menyebabkan gegar otak dan patah kaki. Karena kecelakaan tersebut maka mengharuskan ia untuk lama beristirahat dan tidak bekerja dalm jangka waktu yang lama. Dengan kondisi seperti itu pihak perusahaan tempat E.P. bekerja tidak dapat mentolerir dan akhirnya E.P.dikeluarkan dari perusahaan tempat ia bekerja. Peristiwa pahit yang ia alami sangat berturut-turut dan tidak hanya itu saja. Penderitaannya semakin bertambah setelah sekian lama ia menganggur istri yang ia cintai pergi meninggalkannya bersama laki-laki lain. Kemudian E.P. mengalami goncangan jiwa, peristiwa pahit yang berturut-turut menimpanya tidak dapat ia bendung lagi dan akhirnya sikapnya menjadi:
lebih tempramen dari sebelumnya,
ekstrange (mengasingkan diri),
sering melamun dalam waktu yang lama,
tidak dapat di dekati dengan orang-orang sekitar,
lupa akan kebutuhan dasarnya (mandi,ganti pakaian,makan dan minum)
merusak dan menghancurkan semua barang-barang yang ada di rumah,
mengamuk
Hingga akhirnya ibu S.G. merasa tidak tahan dengan sikap E.P. yang kerap kali mngemuk. Maka terpaksa ibunya mengusir E.P. dari rumah karena ibunya takut E.P bertindak lebih agresif lagi. Setelah kesehatan mentalnya semakin memburuk kemudian ia mngalami depresi yang sangat berat akhirnya ia mengalami gangguan kejiwaan. Keadaan ekonomi keluarga E.P. sangat memprihatinkan, jangankan untuk membawanya ke rumah sakit jiwa, untuk memeriksakan E.P ke psikiater saja tidak mampu. Melihat keadaan E.P semua keluarganya henya bersimpati saja, tetapi tidak diberi dukungan moril ataupun materil setelah itu E.P tidak diperdulikan. Hingga sekarang (2009) E.P hidup terlantar di jalan, atau terkadang tidur di pos kosong di lingkungan komplek. E.P makan dan minum dari tetangga atau terkadang memungut dari tong sampah.
Dari observasi yang saya lakukan beberapa waktu yang lalu perilaku E.P dalam waktu 1 jam sebagai berikut :
· jongkok di pinggir selokan air
· berjalan ke arah kebun nangka lalu ia mulai mencaci-maki pohon
· melempari pohon dengan batu-batu kecil
· setiap orang yang berpapasan dengannya di caci-maki.
· Kemudian ia tidur di dalam pos ronda.

Kesimpulan Observasi :
Efek dari gegar otak setelah ia kecelakaan menambah pngaruh buruk bagi kesehatan mental dan jiwa dari E.P.
Gangguan jiwa yang dialaminya sama sekali bukan berasal dari faktor keturunan.
Disaat E.P. sedang depresi berat ia kurang dukungan moral dan perhatian dari orang terdekat (sahabat) atau keluarga.
Peristiwa traumatik yang bertubi-tubi ia hadapi tidak dapat ia bendung lagi dan membuatnya makin terpuruk.
Keterbatasan keuangan juga mnjadi faktor penyebab, karena seharusnya pada saat awal E.P mengalami depresi ia diperiksakan ke psikolog atau psikiater tetapi karena keadaan ekonomi keluarga tidak memungkinkan E.P. dibiarkan seperti itu.
Keluarga tidak bisa menerima keadaan E.P. yang makin memburuk sehingga E.P diusir dan di terlantarkan.
Karena merasa diasingkan keluarganya jiwa E.P. semakin tertekan dan hingga sekarang E.P. mengalami gangguan jiwa permanent.

Read Users' Comments (0)

Perilaku Stress Pengendara Mobil saat Terjebak Macet.


Judul Observasi : Perilaku Stress Pengendara Mobil saat Terjebak Macet.
Subjek : H.R.
Tempat : di dalam mobil dalam dari Bekasi perjalanan menuju Jogjakarta
Lamanya : 14 jam
Waktu : 22 September 2009-10-06


Saat itu jam sudah menunjukan pukul 07.00 rencana awal yang seharusnya memulai perjalanan pada pukul 05.00 setelah waktu subuh akhirnya dibatalkan karena bangun terlambat akhirnya kami berangkat pukul 07.30. Di perjalanan H.R. teringat kalau mobilnya belum ganti oli. Akhirnya kami berniat ke bengkel mobil, tetapi karena masih suasana lebaran ternyata bengkel mobil tidak ada yang buka. Akhirnya kami pergi ke tempat ganti oli di pinggir jalan setelah ganti oli selesai akhirnya kami melanjutkan perjalanan.
Masuk jalan tol suasana masih nyaman dan menyenangkan. H.R. bercanda dengan anak-anaknya tertawa. Pukul 12.00 saat masuk arah nagrek jalanan macet total, saat itu pula suasana menjadi panas ditambah pula dengan kondisi udara siang hari yang berdebu walaupun saat itu di dalm mobil dingin. Disitu saya mulai mengobservasi perilaku H.R. dalam waktu 5 jam : H.R. marah-marah sendirian, saat anaknya mengajak bercanda atau mengajak bicara ia menghiraukan, mematikan ac, membuka kaca mobil, merokok hingga 1 bungkus, jalan dengan memaksa menyalip mobil lain sehingga kurang memperhatikan aturan mengemudi yang baik, minum kopi di dalam mobil, kemudian saat mobil angkutan umum didepan mobil H.R. meng rem mendadak mobil H.R agak lecet. Kemudian H.R. keluar mobil dan memaki-maki supir angutan tersebut. Supir tersebut hanya meminta maaf kemudian setelah agak emosi H.R mereda H.R masuk lagi ke dalam mobil, kemudian ia menyelahkan dirinya sendiri karena telah memilih jalur selatan yang akhirnya terjebak dalam kemacetan lalu lintas seperti ini. Lalu H.R. merokok lagi dan begitu seterusnya selama jalanan macet.


Kesimpulan :
H.R. merasa stress saat di jalan terjebak macet, mungkin karena lelah mengendarai mobil.
H.R. mungkin menyesal karena sudah memilih jalur utara dan akhirnya terjebak macet.
Menyalahkan diri sendiri.
Merasa puas kalau sudah memaki-maki sendirian.
Seharusnya jika terjebak macet menikmati saja dengan menyibukkan diri dengan hal lain seperti bercanda dengan anaknya atau mendengarkan musik.
Saat sedang macet H.R. menjadi tidak sabar akibatnya mobilnya lecet tersenggol mobil angkutan umum.
Saat terjebak macet perilaku orang dapat berubah dan menunjukan perilaku stress.
Jika hal ini terjadi pada semua pengendara mobil hal ini akan menyebabkan kecelakaan karena tidak memperdulikan aturan lalu intas, saling tabrak, dan sebagainya.


Penyelesaian:
Seharusnya jika terjebak macet menikmati saja dengan menyibukkan diri dengan hal lain seperti bercanda dengan keluarga atau mendengarkan musik.
Penyelesaiannya mungkin daerah jalur yang rawan macet di buat tempat peristirahatan sementara untuk menenangkan pikiran.
Untuk mengakali stress dapat pula makan di restaurant sambil menikmati pemandangan sekitar.
Apapun kondisi yang sedang kita hadapi seharusnya kita nikmati saja agar tidak timbul stress.

Read Users' Comments (0)

PERBEDAAN TEORI PERKEMBANGAN KEPRIBADIAN DAN PERSEPSI MANUSIA SIGMUND FREUD DAN ERIK ERICKSON








Persepsi Tentang Manusia menurut Sigmund Freud




Persepsi tentang sifat manusia:




Menurut Sigmund Freud, perilaku manusia itu ditentukan oleh kekuatan irrasional yang tidak disadari dari dorongan biologis dan dorongan naluri psikoseksual tertentu pada masa enam tahun pertama dalam kehidupannya. Pandangan ini menunjukkan bahwa aliran teori Freud tentang sifat manusia pada dasarnya adalah deterministik.
Ajaran psikoanalisis menyatakan bahwa perilaku seseorang itu lebih rumit dari pada apa yang dibayangkan pada orang tersebut.
Di sini, Freud memberikan indikasi bahwa tantangan terbesar yang dihadapi manusia adalah bagaimana mengendalikan dorongan agresif itu. Bagi Sigmund Freud, rasa resah dan cemas seseorang itu ada hubungannya dengan kenyataan bahwa mereka tahu umat manusia itu akan punah.
kesadaran itu merupakan suatu bagian terkecil atau tipis dari keseluruhan pikiran manusia. Hal ini dapat diibaratkan seperti gunung es yang ada di bawah permukaan laut, dimana bongkahan es itu lebih besar di dalam ketimbang yang terlihat di permukaan. Demikianlah juga halnya dengan kepribadian manusia, semua pengalaman dan memori yang tertekan akan dihimpun dalam alam ketidaksadaran.




Teori Perkembangan Kepribadian menurut Sigmund Freud




Perkembangan kepribadian:Perkembangan manusia dalam psikoanalitik merupakan suatu gambaran yang sangat teliti dari proses perkembangan psikososial dan psikoseksual, mulai dari lahir sampai dewasa. Dalam teori Freud setiap manusia harus melewati serangkaian tahap perkembangan dalam proses menjadi dewasa. Tahap-tahap ini sangat penting bagi pembentukan sifat-sifat kepribadian yang bersifat menetap.




Perkembangan Psikoseksual :

Menurut Sigmund Freud (1856-1939) Fase-fase perkembangan individu didorong oleh energi psikis yang disebut libido.
Libido ini merupakan energi psikis yang bersifat sexual(dorongan kehidupan yang sudah ada sejak bayi). Setiap tahap perkembangan ditandai dengan berfungsinya dorongan-dorongan tersebut pada daerah tubuh tertentu. Freud membagi perkembangan manusia menjadi 6 fase :

Fase Oral (0-1tahun)
Anak memperoleh kepuasan dan kenikmatan yang bersumber pada mulutnya.
Hubungan sosial lebih bersifat fisik, seperti makan atau minum susu. Objek sosial terdekat adalah ibu, terutama saat menyusu. Bila anak tidak menyusu pada ibunya, ia memperoleh kepuasan oral dengan memasukkan jari-jari tangannya ke mulu
Fase Anal (1-3tahun) :
Pada fase ini pusat kenikmatannya terletak di anus, terutama saat buang air besar. Inilah saat yang paling tepat untuk mengajarkan disiplin pada anak termasuk toilet training. Pada masa ini anak sudah menjadi individu yang mampu bertanggung jawab atas beberapa kegiatan tertentu.
Fase Falik (3-5tahun) :
Anak memindahkan pust kenikmatannya pada daerah kelamin. Anak mulai tertarik dengan perbedaan anatomis antara laki-laki dan perempuan. Pada anak laki-laki kedekatan dengan ibunya menimbulkan gairah sexual perasaan cinta yang disebut Oedipus Complex. Sedangkan pada anak perempuan disebut Electra Complex. Tetapi perasaan ini terhalang dengan adanya tokoh ayah bagi anak laki-laki dan tokoh ibu bagi anak perempuan. Kompleks ini kemudian diikuti oleh kecemasan kastrasi (takut dipotong alat kelaminnya) sehingga menimbulkan perilaku menurut dan meniru tindak tanduk saingannya. Konflik ini terpecahkan saat anak sudah menerima, menyukai, dan mengagumi saingannya sehingga menjadi model dari perilakunya (ego ideal).
Periode Laten (5-12tahun) :
Ini adalah masa tenang, walau anak mengalami perkembangan pesat pada aspek motorik dan kognitif. Kecemasan dan ketakutan yang timbul pada masa-masa sebelumnya ditekan (repressed).Anak laki-laki lebih banyak bergaul dengan teman sejenis begitu pula dengan wanita Oleh karena itu, fase ini disebut juga sebagai fase homoseksual alamiah. Anak mencari figure ideal diantara orang dewasa berjenis kelamin sama dengannya.
Fase Genital (12tahun keatas) :
Ala-alat reproduksi sudah mulai masak, pusat kepuasannya berada pada daerah kelamin. Energi psikis (libido) diarahkan untuk hubungan-hubungan heteroseksual. Rasa cintanya pada anggota keluarga dialihkan pada orang lain yang berlawan jenis. Pengalaman-pengalaman di masa lalu menjadi bekal amat berpengaruh pada remaja yang sedang menapak ke dunia karir dan dunia rumahtangga.
________________________________________________________________________


Persepsi Tentang Manusia menurut Erik Erickson




Bagi Erikson, dinamika kepribadian selalu diwujudkan sebagai hasil interaksi antara kebutuhan dasar biologis dan pengungkapannya sebagai tindakan-tindakan sosial. Tampak dengan jelas bahwa yang dimaksudkan dengan psikososial apabila istilah ini dipakai dalam kaitannya dengan perkembangan.
tahap-tahap kehidupan seseorang dari lahir sampai dibentuk oleh pengaruh-pengaruh sosial yang berinteraksi dengan suatu organisme yang menjadi matang secara fisik dan psikologis.
Erikson membuat sebuah bagan untuk mengurutkan delapan tahap secara terpisah mengenai perkembangan ego dalam psikososial, yang biasa dikenal dengan istilah “delapan tahap perkembangan manusia”
berdalil bahwa setiap tahap menghasilkan epigenetic
Gambaran dari perkembangan cermin mengenai ide dalam setiap tahap lingkaran kehidupan sangat berkaitan dengan waktu, yang mana hal ini sangat dominan dan karena itu muncul , dan akan selalu terjadi pada setiap tahap perkembangan hingga berakhir pada tahap dewasa, secara keseluruhan akan adanya fungsi/kegunaan kepribadian dari setiap tahap itu sendiri. Selanjutnya, Erikson berpendapat bahwa tiap tahap psikososial juga disertai oleh krisis. Perbedaan dalam setiap komponen kepribadian yang ada didalam tiap-tiap krisis adalah sebuah masalah yang harus dipecahkan/diselesaikan.
Menurut Erikson delapan tahap perkembangan yang ada berlangsung dalam jangka waktu yang teratur maupun secara hirarkri, akan tetapi jika dalam tahap sebelumnya seseorang mengalami ketidakseimbangan seperti yang diinginkan maka pada tahap sesudahnya dapat berlangsung kembali guna memperbaikinya.




Teori Perkembangan Kepribadian menurut Erik Erickson



Erikson dalam teorinya mengatakan :
(1) Pada dasarnya setiap perkembangan dalam kepribadian manusia mengalami keserasian dari tahap-tahap yang telah ditetapkan sehingga pertumbuhan pada tiap individu dapat dilihat/dibaca untuk mendorong, mengetahui, dan untuk saling mempengaruhi, dalam radius soial yang lebih luas.
(2) Masyarakat, pada prinsipnya, juga merupakan salah satu unsur untuk memelihara saat setiap individu yang baru memasuki lingkungan tersebut guna berinteraksi dan berusaha menjaga serta untuk mendorong secara tepat berdasarkan dari perpindahan didalam tahap-tahap yang ada.




Adapun tingkatan dalam delapan tahap perkembangan yang dilalui oleh setiap manusia menurut Erikson adalah sebagai berikut :
1. Trust vs Mistrust (Kepercayaan vs Kecurigaan)
Tahap ini berlangsung pada masa oral, kira-kira terjadi pada umur 0-1 atau 1 ½ tahun. Tugas yang harus dijalani pada tahap ini adalah menumbuhkan dan mengembangkan kepercayaan tanpa harus menekan kemampuan untuk hadirnya suatu ketidakpercayaan. Kepercayaan ini akan terbina dengan baik apabila dorongan oralis pada bayi terpuaskan, misalnya untuk tidur dengan tenang, menyantap makanan dengan nyaman dan tepat waktu, serta dapat membuang kotoron (eliminsi) dengan sepuasnya. Oleh sebab itu, pada tahap ini ibu memiliki peranan yang secara kwalitatif sangat menentukan perkembangan kepribadian anaknya yang masih kecil. Apabila seorang ibu bisa memberikan rasa hangat dan dekat, konsistensi dan kontinuitas kepada bayi mereka, maka bayi itu akan mengembangkan perasaan dengan menganggap dunia khususnya dunia sosial sebagai suatu tempat yang aman untuk didiami, bahwa orang-orang yang ada didalamnya dapat dipercaya dan saling menyayangi. Kepuasaan yang dirasakan oleh seorang bayi terhadap sikap yang diberikan oleh ibunya akan menimbulkan rasa aman, dicintai, dan terlindungi. Melalui pengalaman dengan orang dewasa tersebut bayi belajar untuk mengantungkan diri dan percaya kepada mereka. Hasil dari adanya kepercayaan berupa kemampuan mempercayai lingkungan dan dirinya serta juga mempercayai kapasitas tubuhnya dalam berespon secara tepat terhadap lingkungannya.
Sebaliknya, jika seorang ibu tidak dapat memberikan kepuasan kepada bayinya, dan tidak dapat memberikan rasa hangat dan nyaman atau jika ada hal-hal lain yang membuat ibunya berpaling dari kebutuhan-kebutuhannya demi memenuhi keinginan mereka sendiri, maka bayi akan lebih mengembangkan rasa tidak percaya, dan dia akan selalu curiga kepada orang lain.
2. Otonomi vs Perasaan Malu dan Ragu-ragu
Pada tahap kedua adalah tahap anus-otot (anal-mascular stages), masa ini biasanya disebut masa balita yang berlangsung mulai dari usia 18 bulan sampai 3 atau 4 tahun. Tugas yang harus diselesaikan pada masa ini adalah kemandirian (otonomi) sekaligus dapat memperkecil perasaan malu dan ragu-ragu. Apabila dalam menjalin suatu relasi antara anak dan orangtuanya terdapat suatu sikap/tindakan yang baik, maka dapat menghasilkan suatu kemandirian. Namun, sebaliknya jika orang tua dalam mengasuh anaknya bersikap salah, maka anak dalam perkembangannya akan mengalami sikap malu dan ragu-ragu. Dengan kata lain, ketika orang tua dalam mengasuh anaknya sangat memperhatikan anaknya dalam aspek-aspek tertentu misalnya mengizinkan seorang anak yang menginjak usia balita untuk dapat mengeksplorasikan dan mengubah lingkungannya, anak tersebut akan bisa mengembangkan rasa mandiri atau ketidaktergantungan. Pada usia ini menurut Erikson bayi mulai belajar untuk mengontrol tubuhnya, sehingga melalui masa ini akan nampak suatu usaha atau perjuangan anak terhadap pengalaman-pengalaman baru yang berorientasi pada suatu tindakan/kegiatan yang dapat menyebabkan adanya sikap untuk mengontrol diri sendiri dan juga untuk menerima control dari orang lain. Misalnya, saat anak belajar berjalan, memegang tangan orang lain, memeluk, maupun untuk menyentuh benda-benda lain.
Di lain pihak, anak dalam perkembangannya pun dapat menjadi pemalu dan ragu-ragu. Jikalau orang tua terlalu membatasi ruang gerak/eksplorasi lingkungan dan kemandirian, sehingga anak akan mudah menyerah karena menganggap dirinya tidak mampu atau tidak seharusnya bertindak sendirian.
3. Inisiatif vs Kesalahan
Tahap ketiga adalah tahap kelamin-lokomotor (genital-locomotor stage) atau yang biasa disebut tahap bermain. Tahap ini pada suatu periode tertentu saat anak menginjak usia 3 sampai 5 atau 6 tahun, dan tugas yang harus diemban seorang anak pada masa ini ialah untuk belajar punya gagasan (inisiatif) tanpa banyak terlalu melakukan kesalahan. Masa-masa bermain merupakan masa di mana seorang anak ingin belajar dan mampu belajar terhadap tantangan dunia luar, serta mempelajari kemampuan-kemampuan baru juga merasa memiliki tujuan. Dikarenakan sikap inisiatif merupakan usaha untuk menjadikan sesuatu yang belum nyata menjadi nyata, sehingga pada usia ini orang tua dapat mengasuh anaknya dengan cara mendorong anak untuk mewujudkan gagasan dan ide-idenya. Akan tetapi, semuanya akan terbalik apabila tujuan dari anak pada masa genital ini mengalami hambatan karena dapat mengembangkan suatu sifat yang berdampak kurang baik bagi dirinya yaitu merasa berdosa dan pada klimaksnya mereka seringkali akan merasa bersalah atau malah akan mengembangkan sikap menyalahkan diri sendiri atas apa yang mereka rasakan dan lakukan.
Ketidakpedulian (ruthlessness) merupakan hasil dari maladaptif yang keliru, hal ini terjadi saat anak memiliki sikap inisiatif yang berlebihan namun juga terlalu minim. Orang yang memiliki sikap inisiatif sangat pandai mengelolanya, yaitu apabila mereka mempunyai suatu rencana baik itu mengenai sekolah, cinta, atau karir mereka tidak peduli terhadap pendapat orang lain dan jika ada yang menghalangi rencananya apa dan siapa pun yang harus dilewati dan disingkirkan demi mencapai tujuannya itu. Akan tetapi bila anak saat berada pada periode mengalami pola asuh yang salah yang menyebabkan anak selalu merasa bersalah akan mengalami malignansi yaitu akan sering berdiam diri (inhibition). Berdiam diri merupakan suatu sifat yang tidak memperlihatkan suatu usaha untuk mencoba melakukan apa-apa, sehingga dengan berbuat seperti itu mereka akan merasa terhindar dari suatu kesalahan.
Kecenderungan atau krisis antara keduanya dapat diseimbangkan, maka akan lahir suatu kemampuan psikososial adalah tujuan (purpose). Selain itu, ritualisasi yang terjadi pada masa ini adalah masa dramatik dan impersonasi. Dramatik dalam pengertiannya dipahami sebagai suatu interaksi yang terjadi pada seorang anak dengan memakai fantasinya sendiri untuk berperan menjadi seseorang yang berani. Sedangkan impersonasi dalam pengertiannya adalah suatu fantasi yang dilakukan oleh seorang anak namun tidak berdasarkan kepribadiannya. Oleh karena itu, rangakain kata yang tepat untuk menggambarkan masa ini pada akhirnya bahwa keberanian, kemampuan untuk bertindak tidak terlepas dari kesadaran dan pemahaman mengenai keterbatasan dan kesalahan yang pernah dilakukan sebelumnya.
4. Kerajinan vs Inferioritas
Tahap keempat adalah tahap laten yang terjadi pada usia sekolah dasar antara umur 6 sampai 12 tahun. Salah satu tugas yang diperlukan dalam tahap ini ialah adalah dengan mengembangkan kemampuan bekerja keras dan menghindari perasaan rasa rendah diri. Saat anak-anak berada tingkatan ini area sosialnya bertambah luas dari lingkungan keluarga merambah sampai ke sekolah, sehingga semua aspek memiliki peran, misalnya orang tua harus selalu mendorong, guru harus memberi perhatian, teman harus menerima kehadirannya, dan lain sebagainya.
Tingkatan ini menunjukkan adanya pengembangan anak terhadap rencana yang pada awalnya hanya sebuah fantasi semata, namun berkembang seiring bertambahnya usia bahwa rencana yang ada harus dapat diwujudkan yaitu untuk dapat berhasil dalam belajar. Anak pada usia ini dituntut untuk dapat merasakan bagaimana rasanya berhasil, apakah itu di sekolah atau ditempat bermain. Melalui tuntutan tersebut anak dapat mengembangkan suatu sikap rajin. Berbeda kalau anak tidak dapat meraih sukses karena mereka merasa tidak mampu (inferioritas), sehingga anak juga dapat mengembangkan sikap rendah diri. Oleh sebab itu, peranan orang tua maupun guru sangatlah penting untuk memperhatikan apa yang menjadi kebutuhan anak pada usia seperti ini. Kegagalan di bangku sekolah yang dialami oleh anak-anak pada umumnya menimpa anak-anak yang cenderung lebih banyak bermain bersama teman-teman dari pada belajar, dan hal ini tentunya tidak terlepas dari peranan orang tua maupun guru dalam mengontrol mereka. Kecenderungan maladaptif akan tercermin apabila anak memiliki rasa giat dan rajin terlalu besar yang mana peristiwa ini menurut Erikson disebut sebagai keahlian sempit. Di sisi lain jika anak kurang memiliki rasa giat dan rajin maka akan tercermin malignansi yang disebut dengan kelembaman. Mereka yang mengidap sifat ini oleh Alfred Adler disebut dengan “masalah-masalah inferioritas”. Maksud dari pengertian tersebut yaitu jika seseorang tidak berhasil pada usaha pertama, maka jangan mencoba lagi. Usaha yang sangat baik dalam tahap ini sama seperti tahap-tahap sebelumnya adalah dengan menyeimbangkan kedua karateristik yang ada, dengan begitu ada nilai positif yang dapat dipetik dan dikembangkan dalam diri setiap pribadi yakni kompetensi.
Dalam lingkungan yang ada pola perilaku yang dipelajari pun berbeda dari tahap sebelumnya, anak diharapkan mampu untuk mengerjakan segala sesuatu dengan mempergunakan cara maupun metode yang standar, sehingga anak tidak terpaku pada aturan yang berlaku dan bersifat kaku. Peristiwa tersebut biasanya dikenal dengan istilah formal. Sedangkan pada pihak lain jikalau anak mampu mengerjakan segala sesuatu dengan mempergunakan cara atau metode yang sesuai dengan aturan yang ditentukan untuk memperoleh hasil yang sempurna, maka anak akan memiliki sikap kaku dan hidupnya sangat terpaku pada aturan yang berlaku. Hal inilah yang dapat menyebabkan relasi dengan orang lain menjadi terhambat. Peristiwa ini biasanya dikenal dengan istilah formalism.
5. Identitas vs Kekacauan Identitas
Tahap kelima merupakan tahap adolesen (remaja), yang dimulai pada saat masa puber dan berakhir pada usia 18 atau 20 tahun. Pencapaian identitas pribadi dan menghindari peran ganda merupakan bagian dari tugas yang harus dilakukan dalam tahap ini. Menurut Erikson masa ini merupakan masa yang mempunyai peranan penting, karena melalui tahap ini orang harus mencapai tingkat identitas ego, dalam pengertiannya identitas pribadi berarti mengetahui siapa dirinya dan bagaimana cara seseorang terjun ke tengah masyarakat. Lingkungan dalam tahap ini semakin luas tidak hanya berada dalam area keluarga, sekolah namun dengan masyarakat yang ada dalam lingkungannya. Masa pubertas terjadi pada tahap ini, kalau pada tahap sebelumnya seseorang dapat menapakinya dengan baik maka segenap identifikasi di masa kanak-kanak diintrogasikan dengan peranan sosial secara aku, sehingga pada tahap ini mereka sudah dapat melihat dan mengembangkan suatu sikap yang baik dalam segi kecocokan antara isi dan dirinya bagi orang lain, selain itu juga anak pada jenjang ini dapat merasakan bahwa mereka sudah menjadi bagian dalam kehidupan orang lain. Semuanya itu terjadi karena mereka sudah dapat menemukan siapakah dirinya. Identitas ego merupakan kulminasi nilai-nilai ego sebelumnya yang merupakan ego sintesis. Dalam arti kata yang lain pencarian identitas ego telah dijalani sejak berada dalam tahap pertama/bayi sampai seseorang berada pada tahap terakhir/tua. Oleh karena itu, salah satu point yang perlu diperhatikan yaitu apabila tahap-tahap sebelumnya berjalan kurang lancar atau tidak berlangsung secara baik, disebabkan anak tidak mengetahui dan memahami siapa dirinya yang sebenarnya ditengah-tengah pergaulan dan struktur sosialnya, inilah yang disebut dengan identity confusion atau kekacauan identitas.
Akan tetapi di sisi lain jika kecenderungan identitas ego lebih kuat dibandingkan dengan kekacauan identitas, maka mereka tidak menyisakan sedikit ruang toleransi terhadap masyarakat yang bersama hidup dalam lingkungannya. Erikson menyebut maladaptif ini dengan sebutan fanatisisme. Orang yang berada dalam sifat fanatisisme ini menganggap bahwa pemikiran, cara maupun jalannyalah yang terbaik. Sebaliknya, jika kekacauan identitas lebih kuat dibandingkan dengan identitas ego maka Erikson menyebut malignansi ini dengan sebutan pengingkaran. Orang yang memiliki sifat ini mengingkari keanggotaannya di dunia orang dewasa atau masyarakat akibatnya mereka akan mencari identitas di tempat lain yang merupakan bagian dari kelompok yang menyingkir dari tuntutan sosial yang mengikat serta mau menerima dan mengakui mereka sebagai bagian dalam kelompoknya.
Kesetiaan akan diperoleh sebagi nilai positif yang dapat dipetik dalam tahap ini, jikalau antara identitas ego dan kekacauan identitas dapat berlangsung secara seimbang, yang mana kesetiaan memiliki makna tersendiri yaitu kemampuan hidup berdasarkan standar yang berlaku di tengah masyarakat terlepas dari segala kekurangan, kelemahan, dan ketidakkonsistennya. Ritualisasi yang nampak dalam tahap adolesen ini dapat menumbuhkan ediologi dan totalisme.
6. Keintiman vs Isolasi
Tahap pertama hingga tahap kelima sudah dilalui, maka setiap individu akan memasuki jenjang berikutnya yaitu pada masa dewasa awal yang berusia sekitar 20-30 tahun. Jenjang ini menurut Erikson adalah ingin mencapai kedekatan dengan orang lain dan berusaha menghindar dari sikap menyendiri. Periode diperlihatkan dengan adanya hubungan spesial dengan orang lain yang biasanya disebut dengan istilah pacaran guna memperlihatkan dan mencapai kelekatan dan kedekatan dengan orang lain. Di mana muatan pemahaman dalam kedekatan dengan orang lain mengandung arti adanya kerja sama yang terjalin dengan orang lain. Akan tetapi, peristiwa ini akan memiliki pengaruh yang berbeda apabila seseorang dalam tahap ini tidak mempunyai kemampuan untuk menjalin relasi dengan orang lain secara baik sehingga akan tumbuh sifat merasa terisolasi. Erikson menyebut adanya kecenderungan maladaptif yang muncul dalam periode ini ialah rasa cuek, di mana seseorang sudah merasa terlalu bebas, sehingga mereka dapat berbuat sesuka hati tanpa memperdulikan dan merasa tergantung pada segala bentuk hubungan misalnya dalam hubungan dengan sahabat, tetangga, bahkan dengan orang yang kita cintai/kekasih sekalipun. Sementara dari segi lain/malignansi Erikson menyebutnya dengan keterkucilan, yaitu kecenderungan orang untuk mengisolasi/menutup diri sendiri dari cinta, persahabatan dan masyarakat, selain itu dapat juga muncul rasa benci dan dendam sebagai bentuk dari kesendirian dan kesepian yang dirasakan.
Oleh sebab itu, kecenderungan antara keintiman dan isoalasi harus berjalan dengan seimbang guna memperoleh nilai yang positif yaitu cinta. Dalam konteks teorinya, cinta berarti kemampuan untuk mengenyampingkan segala bentuk perbedaan dan keangkuhan lewat rasa saling membutuhkan. Wilayah cinta yang dimaksudkan di sini tidak hanya mencakup hubungan dengan kekasih namun juga hubungan dengan orang tua, tetangga, sahabat, dan lain-lain.
Ritualisasi yang terjadi pada tahan ini yaitu adanya afiliasi dan elitisme. Afilisiasi menunjukkan suatu sikap yang baik dengan mencerminkan sikap untuk mempertahankan cinta yang dibangun dengan sahabat, kekasih, dan lain-lain. Sedangkan elitisme menunjukkan sikap yang kurang terbuka dan selalu menaruh curiga terhadap orang lain.
7. Generativitas vs Stagnasi
Masa dewasa (dewasa tengah) berada pada posisi ke tujuh, dan ditempati oleh orang-orang yang berusia sekitar 30 sampai 60 tahun. Apabila pada tahap pertama sampai dengan tahap ke enam terdapat tugas untuk dicapai, demikian pula pada masa ini dan salah satu tugas untuk dicapai ialah dapat mengabdikan diri guna keseimbangan antara sifat melahirkan sesuatu (generativitas) dengan tidak berbuat apa-apa (stagnasi). Generativitas adalah perluasan cinta ke masa depan. Sifat ini adalah kepedulian terhadap generasi yang akan datang. Melalui generativitas akan dapat dicerminkan sikap memperdulikan orang lain. Pemahaman ini sangat jauh berbeda dengan arti kata stagnasi yaitu pemujaan terhadap diri sendiri dan sikap yang dapat digambarkan dalam stagnasi ini adalah tidak perduli terhadap siapapun.
Maladaptif yang kuat akan menimbulkan sikap terlalu peduli, sehingga mereka tidak punya waktu untuk mengurus diri sendiri. Selain itu malignansi yang ada adalah penolakan, di mana seseorang tidak dapat berperan secara baik dalam lingkungan kehidupannya akibat dari semua itu kehadirannya ditengah-tengah area kehiduannya kurang mendapat sambutan yang baik.
Harapan yang ingin dicapai pada masa ini yaitu terjadinya keseimbangan antara generativitas dan stagnansi guna mendapatkan nilai positif yang dapat dipetik yaitu kepedulian. Ritualisasi dalam tahap ini meliputi generasional dan otoritisme. Generasional ialah suatu interaksi/hubungan yang terjalin secara baik dan menyenangkan antara orang-orang yang berada pada usia dewasa dengan para penerusnya. Sedangkan otoritisme yaitu apabila orang dewasa merasa memiliki kemampuan yang lebih berdasarkan pengalaman yang mereka alami serta memberikan segala peraturan yang ada untuk dilaksanakan secara memaksa, sehingga hubungan diantara orang dewasa dan penerusnya tidak akan berlangsung dengan baik dan menyenangkan.
8. Integritas vs Keputusasaan
Tahap terakhir dalam teorinya Erikson disebut tahap usia senja yang diduduki oleh orang-orang yang berusia sekitar 60 atau 65 ke atas. Dalam teori Erikson, orang yang sampai pada tahap ini berarti sudah cukup berhasil melewati tahap-tahap sebelumnya dan yang menjadi tugas pada usia senja ini adalah integritas dan berupaya menghilangkan putus asa dan kekecewaan. Tahap ini merupakan tahap yang sulit dilewati menurut pemandangan sebagian orang dikarenakan mereka sudah merasa terasing dari lingkungan kehidupannya, karena orang pada usia senja dianggap tidak dapat berbuat apa-apa lagi atau tidak berguna. Kesulitan tersebut dapat diatasi jika di dalam diri orang yang berada pada tahap paling tinggi dalam teori Erikson terdapat integritas yang memiliki arti tersendiri yakni menerima hidup dan oleh karena itu juga berarti menerima akhir dari hidup itu sendiri. Namun, sikap ini akan bertolak belakang jika didalam diri mereka tidak terdapat integritas yang mana sikap terhadap datangnya kecemasan akan terlihat. Kecenderungan terjadinya integritas lebih kuat dibandingkan dengan kecemasan dapat menyebabkan maladaptif yang biasa disebut Erikson berandai-andai, sementara mereka tidak mau menghadapi kesulitan dan kenyataan di masa tua. Sebaliknya, jika kecenderungan kecemasan lebih kuat dibandingkan dengan integritas maupun secara malignansi yang disebut dengan sikap menggerutu, yang diartikan Erikson sebagai sikap sumaph serapah dan menyesali kehidupan sendiri.
Oleh karena itu, keseimbangan antara integritas dan kecemasan itulah yang ingin dicapai dalam masa usia senja guna memperoleh suatu sikap kebijaksanaan.



Daftar Pustaka

Riyanti,B.P.,Prabowo,Hendro,dan Puspitawati,Ira.1996.Psikologi Umum I(Seri Diktat Kuliah).Universitas Gunadarma:Jakarta.hal.102.




S. Hall,Calvin,dan Gardner Lindzey. 1993.Theories of Personality ( terjemahan A. Supratika).Kanisius:Yogyakarta.hal.51.




Atkinson,L.,Lita, Atkinson, C., Richard,dkk.1992.Pengantar Psikologi Jilid I (edisi Ke-11).Interaksara:Batam.




http//www.theory of psychosocial.com




http//www.theory of psychosocial development.com

Read Users' Comments (0)

Depresi pada Orang Usia Lanjut


Gangguan depresi banyak terjadi pada orang usia lajut, tetapi sering tak terdiagnosis karena gejalanya tumpang tindih dengan penyakit degeneratif yang mereka derita. Padahal jika tidak mendapat pengobatan yang memadai depresi bisa memperburuk penyakit yang ada dan mempercepat kematian masalah ini dibahas dalam Temu Ilmiah Geriatri 2003, dr. E Mudjaddid SpPD KPs dari Sub bagian psikomatik Bagian Ilmu Penyakit Dalam FK UI/RSCM mengatakan bahwa prevalensi depresi pada populasi umum 6.5%, sedangkan pada pasien usia lanjut prevalensinya 15,9%. Ditambahkan pada usia lanjut depresi bias berdiri sendiri atau bersama dengan penyakit lain namun harus ditangani dengan sungguh-sungguh karena metabolisme serotonin yang terganggu pada depresi menimbulkan efek trombogenesis (timbulnya bekuan darah di pembuluh darah).

Terjadinya depresi pada usia lanjut merupakan interaksi beberapa factor, yaitu factor biologi,psikologi, dan social. Faktor biologi antara lain berkurangnya sejumlah neuron (pengantar impuls pada system syaraf) maupun neurotransmitter (zat-zat kimia yang berperan dalam pengantaran impuls system syaraf) di otak.
Faktor psikologi misalnya rasa rendah diri karena berkurangnya kemampuan atau kemandirian, kepedihan ditinggal orang yang dicintai, serta factor kepribadian. Faktor social adalah berkurangnya interaksi social, kesepian dan masalah social ekonomi.
Pemakaian obat dalam jangka waktu lama juga bisa menimbulkan depresi. Seperti pemakaian kortikosteroid, obat kontrasepsi oral, reserpin, alfa metildopa, guanetidin levodopa, indometanin, cimetidin, clopidin, dan propanolol.

Gejala
Menurut dr.Charles E Damping SpKJ (K) dari bagian Psikiatri FK UI/RSCM secara umum gejala depresi bersdasarkan Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder/DSM-IV (1994) adalah perasaan depresi, kehilangan minat atau kesenangan, penurunan atau penambahan berat badan, insomnia, agitasi, atau retardasi psikomotor keletihan atau kehilangan tenaga merasa tidak berguna atau rasa bersalah berlebihan, kemampuanberpikir atau berkonsentrasi menurun, ketidakmampuan mengambil keputusan, serta adanya fikiran tentang kematian dan bunuh diri.
Mujaddid menambahkan, pada usia lanjut gejala depresi sangat bervariasi, mulai dari perasaan sedih, pikiran terhambat, tingkah laku lamban, kecemasan, kehilangn selera makan, kehilangan rasa senang, cenderung menyusahkan orang lain sampai keluhan somatic/fisik.
Depresi sering disertai gejala fisik seperti sakit kepala, berdebar-debar, sakit pinggang, gangguan saluran cerna dan sebagainya.
Charles menyatakan, para ahli sepakat factor genetic berperan pada gangguan depresi, Pada beberapa penelitian ditemukan adanya perubahan neurotransmitter seperti penurunan konsentrasi serotonin, norepinefrin, dopamine dan asetilkolin serta meningkatnya konsentrasi monoamine oksidase otak akibat proses penuaan. Pada usia lanjut diperkirakan penyusutan atau atrofi otak juga berperan.
Pemilihan obat antidepresan pada usia lanjut, demikian Mudjaddid harus mempertimbangkan efktifitan obat, tolerabilitas, dan efek samping obat, interaksi obat antidepresan dengan obat lain dan kemudahan penggunaan
Beberapa penelitian menunjukkan, psikofarmaka yang diberikan bersamaan dengan psikoterapi memberi hasil jauh lebih baik dibandingkan pemberian psikofarmaka atau psikoterapi saja.

Sumber : Jurnal Kesehatan Mental untuk Lansia

Read Users' Comments (0)